A. Ilmu Hadis Riwayah
Menurut bahasa riwayah berasal dari kata rawa-yarwi-riwayatan yang berarti annaql = memindahkan dan penukilan. Sedangkan ilmu hadits riwayah menurut istilah sebagaimana pendapat Dr. Subhi Asshalih adalah :
"ilmu
hadits riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang periwayatan secara
teliti dan berhati-hati bagi segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat serta
segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin” (Subhi
Asshalih, Ulumul Hadits…hal. 107)
Menurut Syaikh Manna’
A-Qhaththan, obyek pembahasan ilmu riwayatul hadits: sabda Rasulullah,
perbuatan beliau, ketetapan beliau, dan sifat-sifat beliau dari segi
periwayatannya secara detail dan mendalam.
Faidahnya: menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan dalam periwayatannya
Sementara
itu, obyek Ilmu Hadits Riwayah, ialah membicarakan bagaimana cara
menerima, menyampaikan pada orang lain dan memindahkan atau membukukan
dalam suatu Kitab Hadits. Dalam menyampaikan dan membukukan Hadits,
hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya, baik mengenai matan maupun
sanadnya.
Adapun kegunaan mempelajari ilmu ini adalah untuk
menghindari adanya kemungkinan yang salah dari sumbernya, yaitu Nabi
Muhammad Saw. Sebab berita yang beredar pada umat Islam bisa jadi bukan
hadits, melainkan juga ada berita-berita lain yang sumbernya bukan dari
Nabi, atau bahkan sumbernya tidak jelas sama sekali.
Jadi jelaslah, dari definisi diatas kita dapat menarik beberapa point , yaitu :
- Objek Ilmu Hadits Riwayah adalah matan atau isi hadits yang disandarkan kepada Nabi, Sahabat dan Tabiin.
- Ilmu Hadits Riwayah mempelajari periwayatan yang mengakumulasikan apa, siapa dan dari siapa suatu riwayat.
- Fokus kajian Ilmu Hadits Riwayah adalah Matan Hadits. Namun tidak mungkin ada matan tanpa disertai Sanad Hadits.
- Sedangkan Ilmu Hadits ialah seperangkat kaidah yang mengatur tentang anatomi dan morfologi hadits. Pengolahan anatomi hadits disebut Ilmu Hadits Riwayah, dan pengolahan morfologi hadits disebut Ilmu Hadits Dirayah. Dua bidang ilmu itu bergerak terus, dan berkembang sesuai kebutuhan, untuk menformatisasikan isi hadits Nabi kepada lokasi atau kepada perkembangan masyarakat.
- Ilmu Hadits Riwayah ialah studi hermeneutika atas teks hadits atau informasi tentang ungkapan isi hadits Nabi dari berbagai segi. Kitab Kuning mengulas masalah ini dengan sebutan Syarah Hadits, dan Hasyiyah atau Ta’liqat. Semua berkaitan dengan ilmu kalam, ilmu fiqh dan atau ilmu lainnya.
Ulama yang terkenal dan
dipandang sebagai pelopor ilmu hadis riwayah adalah Abu Bakar Muhammad
bin Syihab az-Zuhri (51-124 H), seorang imam dan ulama besar di Hedzjaz
(Hijaz) dan Syam (Suriah). Dalam sejarah perkembangan hadis, az-Zuhri
tercatat sebagai ulama pertama yang menghimpun hadis Nabi SAW atas
perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz atau Khalifah Umar II (memerintah
99 H/717 M-102 H /720 M).
Meskipun demikian, ilmu hadis riwayah
ini sudah ada sejak periode Rasulunah SAW sendiri, bersamaan dengan
dimulainya periwayatan hadis itu sendiri. Sebagaimana diketahui, para
sahabat menaruh perhatian yang tinggi terhadap hadis Nabi SAW. Mereka
berupaya mendapatkannya dengan menghadiri majelis Rasulullah SAW serta
mendengar dan menyimak pesan atau nasihat yang disampaikan Nabi SAW.
Kehadiran
hadits sebagai sumber pokok ajaran islam, memang banyak dipersoalkan,
hal ini berkaitan dengan matan, perawi, sanad dan lainnya, yang
kesemuanya menjadi boleh atau tidaknya suatu hadits untuk dijadikan
hujjah. Terlepas dari itu, perbedaan sahabat dalam memahami hadits pun
menjadi hal yang penting untuk ditelaah lebih lanjut, karena perbedaan
pemahaman tersebut mengakibatkan periwayatan pun menjadi berbeda. Hal
inilah yang menjadi salah satu penyebab suatu hadits diperselisihkan
oleh para ulama tentang kehujjahannya. Perbedaan pemahaman hadits
yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual
melahirkan apa yang disebut dengan “Hadits Riwayah Bil-lafdzi” dan
“Hadits Riwayah Bil-ma’na.”
1. HADITS RIWAYAH BIL-LAFDZI
Meriwayatkan
hadits dengan lafadz adalah meriwayatkan hadits sesuai dengan lafadz
yang mereka terima dari Nabi saw dan mereka hafal benar lafadz dari Nabi
tersebut. Atau dengan kata lain meriwayatkan dengan lafadz yang masih
asli dari Nabi saw. Riwayat hadits dengan lafadz ini sebenarnya tidak
ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui
perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis
atau menghafalnya.
Hal ini dapat kita lihat pada hadits-hadits yang memakai lafadz-lafadz sebagai berikut:
- (Saya mendengar Rasulullah saw) Artinya: Dari Al-Mughirah ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya dusta atas namaku itu tidak seperti dusta atas nama orang lain, dan barang siapa dusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim dan lain-lainnya)
- (Menceritakan kepadaku Rasulullah saw)Artinya: Telah bercerita kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Humaidi bin Abdur Rahman dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang beramadhan dengan iman dan mengharap pahala, dihapus doasa-dosanya yang telah lalu.”
- (Mengkhabarkan kepadaku Rasulullah saw)(Saya melihat Rasulullah saw berbuat) Artinya: Dari Abbas bin Rabi’ ra., ia berkata: Aku melihat Umar bin Khaththab ra., mencium Hajar Aswad dan ia berkata: “Sesungguhnya benar-benar aku tahu bahwa engkau itu sebuah batu yang tidak memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, aku (pun) tak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits
yang menggunakan lafadz-lafadz di atas memberikan indikasi, bahwa para
sahabat langsung bertemu dengan Nabi saw dalam meriwayatkan hadits. Oleh
karenanya para ulama menetapkan hadits yang diterima dengan cara itu
menjadi hujjah, dengan tidak ada khilaf.
2. HADITS RIWAYAH BIL-MA’NA
Meriwayatkan
hadits dengan makna adalah meriwayatkan hadits dengan maknanya saja
sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan. Atau
dengan kata lain apa yang diucapkan oleh Rasulullah hanya dipahami
maksudnya saja, lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafadz atau
susunan redaksi mereka sendiri. Hal ini dikarenakan para sahabat tidak
sama daya ingatannya, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Di samping
itu kemungkinan masanya sudah lama, sehingga yang masih ingat hanya
maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya.
Menukil
atau meriwayatkan hadits secara makna ini hanya diperbolehkan ketikan
hadits-hadits belum terkodifikasi. Adapun hadits-hadits yang sudah
terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang),
tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafadz/matan yang lain meskipun
maknanya tetap.
Adapun contoh hadits ma’nawi adalah sebagai berikut:
Artinya:
Ada seorang wanita datang menghadap Nabi saw, yang bermaksud
menyerahkan dirinya (untuk dikawin) kepada beliau. Tiba-tiba ada seorang
laki-laki berkata: Ya Rasulullah, nikahkanlah wanita tersebut kepadaku,
sedangkan laki-laki tersebut tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan
sebagai maharnya selain dia hafal sebagian ayat-ayat Al-Qur’an. Maka
Nabi saw berkata kepada laki-laki tersebut: Aku nikahkan engkau kepada
wanita tersebut dengan mahar (mas kawin) berupa mengajarkan ayat
Al-Qur’an.
Dalam satu riwayat disebutkan:
“Aku kawinkan
engkau kepada wanita tersebut dengan mahar berupa (mengajarkan)
ayat-ayat Al-Qur’an”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku kawinkan
engkau kepada wanita tersebut atas dasar mahar berupa (mengajarkan)
ayat-ayat Al-Qur’an”. Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Aku jadikan
wanita tersebut milik engkau dengan mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat
Al-Qur’an”. (Al-Hadits)
Secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa meriwayatkan hadits dengan maknanya itu sebagai berikut:
- Tidak diperbolehkan, pendapat segolongan ahli hadits, ahli fiqh dan ushuliyyin.
- Diperbolehkan, dengan syarat yang diriwayatkan itu bukan hadits marfu’.
- Diperbolehkan, baik hadits itu marfu’ atau bukan asal diyakini bahwa hadits itu tidak menyalahi lafadz yang didengar, dalam arti pengertian dan maksud hadits itu dapat mencakup dan tidak menyalahi.
- Diperbolehkan, bagi para perawi yang tidak ingat lagi lafadz asli yang ia dengar, kalau masih ingat maka tidak diperbolehkan menggantinya.
- Ada pendapat yang mengatakan bahwa hadits itu yang terpenting adalah isi, maksud kandungan dan pengertiannya, masalah lafadz tidak jadi persoalan. Jadi diperbolehkan mengganti lafadz dengan mumodifnya.
- Jika hadits itu tidak mengenai masalah ibadah atau yang diibadati, umpamanya hadits mengenai ilmu dan sebagainya, maka diperbolehkan dengan catatan:
- Hanya pada periode sahabat
- Bukan hadits yang sudah didewankan atau di bukukan
- Tidak pada lafadz yang diibadati, umpamanya tentang lafadz tasyahud dan qunut.
B. Ilmu Hadist Dirayah
Ilmu Hadits Dirayah, menurut bahasa dirayah berasal dari kata dara-yadri-daryan yang berarti pengetahuan.
Maka seringkali kita mendengar Ilmu Hadits Dirayah Disebut-sebut
sebagai pengetahuan tentang ilmu Hadits atau pengantar ilmu hadits.
Menurut imam Assyuthi, Ilmu Hadits Dirayah adalah ”ilmu
yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya,
macam-macamnya dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat
mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya”.
Disebut
dengan juga ilmu Musthalahul Hadits – undang-undang (kaidah-kaidah)
untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan
menyampaikan al-Hadits, sifat-sifat rawi dan lain sebagainya.
Obyek
Ilmu Hadits Riwayah : meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya
(sanad dan matannya). Menurut sebagian ulama, yang menjadi obyeknya
ialah Rasulullah SAW sendiri dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah. Faedahnya
atau tujuan ilmu ini : untuk menetapkan maqbul (dapat diterima) atau
mardudnya (tertolaknya) suatu hadits dan selanjutnya untuk diamalkannya
yang maqbul dan ditinggalnya yang mardud.
Ulama hadits
berbeda dalam memberikan definisi ilmu hadsit dirayah, meskipun dari
berbagai definisi itu ada kemiripan batasan-batasan definisi. Ilmu
hadits dirayah adalah pembahasan masalah untuk mengetahui keadaan rawi
dan yang diriwayahkan, apakah bisa diterima atau ditolak.
Ibn
Akfani berpendapat, ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang dapat
mengetahui hakikat riwayah, syarat-syarat, macam-macam dan
hukum-hukumnya, ilmu yang dapat mengetahui keadaan para rawi,
syarat-syarat rawi dan yang diriwayahkannya serta semua yang berkaitan
dengan periwayahannya.
Ulama lain berpendapat, ilmu hadits
dirayah adalah ilmu undang-undang yang dapat mengetahui keadaan sanad
dan matan. Definisi ini lebih pendek dari definisi di atas. Sedangkan
definisi lain sebagaimana di sebutkan ibnu hajar, definisi paling baik
dari berbagai definisi ilmu hadits dirayah adalah pengetahuan tentang
kaidah-kaidah yang dapat memperkenalkan keadaan-keadaan rawi dan yang
diriwayahkan.
Berbagai definisi di atas banyak kemiripan, pada
dasarnya semua definisi itu sama yakni pengetahuan tentang rawi dan
yang diriwayahkan atau sanad dan matannya baik juga berkaitan dengan
pengetahuan tentang syarat-syarat periwayahan, macam-macamnya atau
hukum-hukumnya.
Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits
terhadap ilmu hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. Pada mulanya
pembahasan yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Kemudian
muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan
semuanya terangkum dalam satu nama, yakni ilmu hadits. Munculnya
berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits
dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda.
Berikut di antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu dirayah;
Ilmu Jarah Wa Al-Ta’dil
Ilmu
ini membahas para rawi, sekiranya masalah yang membuat mereka tercela
atau bersih dalam menggunakan lafad-lafad tertentu. Ini adalah buah ilmu
tersebut dan merupakan bagian terbesarnya.
Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits
Dengan
ilmu ini dapat diketahui apakah para rawi layak menjadi perawi atau
tidak. Orang yang pertama di bidang ini adalah al-bukhari (256 H). dalam
bukunya thabaqat, ibn sa’ad (230 H) banyak menjelaskannya.
Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits
Imam
Nawawi berkata dalam kitab al-Taqrib, “ini adalah salah satu disiplin
ilmu dirayah yang terpentinng.” Ilmu ini membahas hadits-hadits yang
secara lahiriyah bertentangan, namun ada kemumkinan dapat diterima
dengan syarat. Jelasnya, umpamanya ada dua hadits yang yang makna
lahirnya bertentangan, kemudian dapat diambil jalan tengah, atau salah
satunya ada yang di utamakan.
Misalnya sabda rasulullah SAW,
“tiada penyakit menular ” dan sabdanya dalam hadits lain berbunyi,
“Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari singa”. Kedua hadits
tersebut sama-sama shahih. Lalu diterapkanlah jalan tengah bahwa
sesungguhnya penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya. Akan
tetapi allah SWT menjadikan pergaulan orang yang sakit dengan yang sehat
sebagai sebab penularan penyakit.
Di antara ulama yang menulis
tentang ilmu mukhtalaf al-hadits adalah imam syafi’I (204 H), Ibn
Qutaibah (276 H), Abu Yahya Zakariya Bin Yahya al-Saji (307 H) dan Ibnu
al-Jauzi (598 H).
Ilmu Ilal Al-Hadits
Ilmu ini
membahas tentang sebab-sebab tersembunyinya yang dapat merusak keabsahan
suatu hadits. Misalnya memuttasilkan hadits yang mungkati’, memarfu’kan
hadits yang maukuf dan sebagainya. Dengan demikian menjadi nyata betapa
pentingnya ilmu ini posisinya dalam disiplin ilmu hadits.
Ilmu Gharib Al-Hadits
ilmu
ini membahas tentang kesamaran makna lafad hadits. Karena telah berbaur
dengan bahasa arab pasar. Ulama yang terdahulu menyusun kitab tentang
ilmu ini adalah abu hasan al-nadru ibn syamil al-mazini, wafat pada
tahun 203 H.
ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits
ilmu
nasakh wa al-mansukh al-hadits adalah ilmu yang membahas tentang
hadits-hadits yang bertentangan yang hukumnya tidak dapat dikompromikan
antara yang satu dengan yang lain.yang datang dahulu disebut mansukh
(hadits yang dihapus) dan yang datang kemudian disebut nasikh (hadits
yang menghapus).
Pengetahuan ilmu tentang nasikh mansukh ini
merupakan ilmu yang sangat penting untuk dan wajib dikuasai oleh seorang
yang akan mengkaji hukum syariat. Sebab tidak mungkin bagi seseorang
yang akan membahas tentang hukum syar’i sementara ia tidak mengenal dan
menguasai ilmu tentang nasikh mansukh.
Al-hazimi berkata:
disiplin ilmu ini (nasikh mansukh) termasul kesempurnaan ijtihad.
Karena, rukun yang paling penting dalam beriitihad adalah pengetahuan
tentang penukilan hadits, dan sedangkan faidah dari pengetahuan tentang
penukilan adalah pengetahuan tentang nasikh dan mansukh.
Nasikh
adalah yang menghapus atau membatalkan. Kadang-kadang nasikh ini di
lakukan oleh nabi sendiri, seperti, sabdanya, “Aku pernah melarang
ziarah kubur, lalu sekarang berziarahlah, karena itu akan
mengingattkanmu pada akhirat.”
Pendiri Ilmu Hadits Dirayah adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurahman bin Khalad Ramahumuzi (w.360 H)
Pokok pembahasan ilmu dirayah itu dua, yaitu :
- rijal al-sanad
- jarah-ta’dil.
Dari
pembahasan dua ulasan itu muncul penilaian, bahwa suatu matan hadits
dinilai shahih, atau hasan atau dla’if. Kata penilaian seperti itu biasa
disebut Mushthalah al-Hadits.
1. Rijal al-Sanad
sering
disebut riwayat perawi al-hadits, yaitu untaian informasi tentang sosok
perawi yang menceritakan matan hadits dari satu rawi kepada rawi yang
lain, sampai pada penghimpun hadits. Informasi itu menceritakan setiap
rawi, dari segi kapan dia lahir dan wafatnya, siapa guru-gurunya, kapan
tahun belajarnya, siapa murid-murid yang berguru kepadanya, dari daerah
mana dia, kedatangan dia ke seorang guru kapan, dalam keadaan sehat,
atau campur aduk kata-katanya (ikhtilath), atau dalam periwatan hadits
terdapat illat (cacad) bagi perawi, atau bagi matan hadits, dan
begitulah seterusnya.
Dari satu segi, persyaratan perawi hadits
adalah muslim, aqil-baligh, kesatria (’adalah) dan kuat ingatan
(dlabith), baik dlabith ingatan atau dlabit catatan Sedangkan cara
penyampaiannya bisa menggunakan pendengaran teks dari guru kepada murid,
murid membaca teks di depan guru, ijazah, timbang terima teks dari guru
ke murid, tulisan guru yang terkirimkan, pengumuman guru, wasiat, dan
penemuan tulisan guru oleh murid (wijadah). Semua bisa dikembangan
dengan teknologi sekarang, seperti konsep dlabith bisa ditambah dengan
catatan, atau website, atau sms dan sebagainya..
Tingkatan perawi
hadits pertama adalah shahabat Rasulullah Saw. yaitu seseorang yang
pernah bertemu Rasulullah Saw. dalam keadaan hidup, sadar dan beriman
(Islam) sampai dia wafat dalam keadaan Islam.
Teknik penulisan
matan hadits, sanadnya dimulai dari penyebutan sahabat Nabi, tabi’in,
tabi’ al-tabi’in dan murid-muridnya, sampai guru perawi hadits yang
ditulis oleh penghimpun hadits. Semua penyajian seperti itu biasanya
ditulis oleh ulama mutaqaddimin dalam kitab karangannya masing-masing.
Sedangkan penulisan ulama mutaakhirin dalam kitab-kitabnya hanya
menyebutkan sahabat Nabi dan nama penghimpun matan hadits itu saja,
seperti sebutan : Rawahu al-Bukhari dari Ibn Umar dan sebagainya.
Penyajian seperti itu, baik penyajian ulama mutaqaddimin atau ulama
mutaakhrin.
2. Jarah-ta’dil
adalah unsur
ilmu hadits yang penting dalam menentukan perawi hadits, diterima atau
ditolak matan haditsnya. Dengan kata lain hadits Nabi dinilai shahih
atau tidak, didasarkan pada penilaian itu. Dari segi lain, klasifikasi
tingkat tinggi-rendahnya nilai hadits pun, ditentukan oleh unsur itu
juga. Atas dasar itu, hampir semua kitab Ulum al-Hadits, baik karya
ulama mutaqaddimin atau mutaakhirin, selalu membahas jarah ta’dil.
Kitab-kitab
yang membahas jarah-ta’dil banyak sekali, dengan metode dan penyajian
materi yang berbeda-beda. Tokoh yang pertama kali memperhatikan jarah
ta’dil sebagai ilmu, adalah Ibn Sirin (w.110 H), Al-Sya’bi (w.103 H),
Syu’bah, (w.160 H), dan al-imam Malik (w. 179 H.). Sedangkan tokoh yang
pertama kali menulis kitab jarah-ta’dil adalah Yahya ibn Ma’in (168-223
H), Ali ibn al-Madini (161-234 H), dan Ahmad ibn Hanbal (164-241 H).
Kemudian bermunculan kitab-kitab yang menulis jarah ta’dil.
Jarah
ta’dil pada dasarnya diangkat dari ayat-ayat al-Qur’an, antara lain
ayat 6 Surat al-Hujurat, dan beberapa hadits Nabi Saw. Kemudian
pemahaman terhadap ayat dan hadits itu dikongkritkan oleh ahli hadits
untuk dijadikan sebagai konsep jarah ta’dil. Kemudian konsep itu
diterapkan pada setiap orang yang akan menceritakan hadits Nabi.
Sebenarnya, pekerjaan itu sudah dilakukan oleh pengamal hadits sejak
dari zaman Rasulullah, zaman sahabat Nabi, dan ulama berikutnya. Tetapi
gagasan itu baru dinormatifkan sebagai ilmu hadits, pada zaman tabi’in,
seperti tersebut di atas.
Jarah ta’dil adalah sebuah ilmu yang
menurut sifat dan tabiatnya adalah berkembang. Tetapi sesudah karya Ibn
Hajar al-Asqallani, kitab yang muncul berikutnya hanya mengutip apa
adanya, sehingga tidak ada komentar baru. Tulisan ini ingin mengajak
pembaca untuk mengolah jarah-ta’dil menjadi sebuah ilmu yang berkembang.
Pengembangan jarah ta’dil berangkat dari dua kelompok pembahasan, yaitu :
- Berangkat dari unsur rawi (pembawa hadits) dan unsur takhrij (metoda pengeluaran predikat jarah atau ta’dil pada seorang rawi yang ada dalam sanad).
- Unsur dalil unsur penilaian. Yaitu unsur alasan ditetapkannya jarah atau ta’dil kepada seorang rawi, dan unsur norma-norma penilaian jarah atau ta’dil itu sendiri. Dua kelompok itulah merupakan pilar utama dalam bangunan Ilmu Hadits Dirayah.
Secara rinci, fokus pengembangan jarah ta’dil tersebar berdasarkan dua pemilahan.
- Pemilahan matan hadits, seperti hadits akidah, hadits hukum, hadits muamalah, hadits sosial, hadits kepribadian, dan sebagainya.
- Pemilahan rawi dari segi jarah atau ta’dil berdasarkan jenjang kaidahnya, sehingga muncul pengkelompokkan ulama pemikir jarah ta’dil menjadi ulama mutasyaddidin, ulama mutawassithin, atau ulama mutasahilin. Semua itu berangkat dari penilaian mereka terhadap rawi, sehingga ada rawi yang disepakati jarahnya, ada yang disepakati adilnya, dan yang paling banyak adalah ulam yang diikhtilafkan penilaian jarah dan ta’dilnya. Atas dasar itu, jarah-ta’dil dapat diterapkan pada konteks yang berbeda-beda.
Selain
itu, Ilmu Hadits Dirayah juga mengolah matan hadits, dari segi
penawaran beberapa metode yang diperlukan oleh Ilmu Hadits Riwayah.
Model-model pengolahan itu banyak sekali, tetapi dalam tulisan ini hanya
disajikan dua model saja, yaitu matan hadits dan kebudayaan, atau
mekanisme matan hadits.
Matan hadits dan kebudayaan terdiri atas
tiga masalah, yaitu (1) bentuk-bentuk hadits Nabi meliputi hadits qudsi,
hadits nabawi bukan qudsi, jawami’ al-kalim, hadits dzikir dan do’a,
hadits riwayat bi al-makna, dan aqwal al-shahabah. Semua dikutip untuk
dikembangkan, setelah ditafsirkan oleh para ulama dalam bentuk kitab.
Penafsiran ulama dalam kitab-kitab itu disebut format hadits Gambarannya
adalah sebagai berikut :
Matan Hadits Nabi dan kebudayaan (Format dan formatisasi oleh matan hadits)
Format
hadits dinilai agama, sedangkan kehidupan masyarakat dinilai budaya,
maka penerapan hadits kepada masyarakat disebut formatisasi. Yaitu
pengolahan konsep penerapan hadits Nabi kepada masyarakat, sesuai dengan
maksud yang dikehendaki oleh hadits itu. Unsur penerapan formatisasi
ada lima, yaitu :
Penyusun konsep syarah yang berinisiatip untuk mengembangkan format hadits. Nasikh Mansukh fi al-Hadits.
Misi format baik verbal atau non-verbal yang memiliki nilai, norma, gagasan, atau maksud yang dibawakan oleh format hadits.
Alat
atau wahana yang digunakan oleh penyusun konsep, untuk menyampaikan
pesan formatisasi kepada masyarakat. Halayak atau komentator yang
menerima formatisasi dari penyusun konsep,
Gambaran
atau tanggapan yang terjadi pada penerima format setelah melihat
formatisasi. Unsur ini tetap diperlukan untuk melihat perkembangan
formatisasi.
Teori nasikh-mansukh diterapkan, ketika ada dua
hadits yang isinya kelihatan bertentangan, dan susah dijadikan istinbath
sebagai dalil hukum. Teori ini dikembangkan oleh Ilmu Ushul Fiqh ketika
membahas hadits sebagai dalil hukum. Contohnya seperti sabda Rasulullah
”Saya melarang kamu sekalian tentang ziarah ke kuburan. Maka ziarahilah
ke kuburan, karena itu mengingatkan kamu ke akhirat.” Riwayat Malik,
Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmizi dan al-Nasai.
Hampir semua kitab
Dirayah Hadits membahas tentang nasikh-mansukh. Tokoh yang pertama kali
menulis Dirayah tentag ini adalah Qatadah ibn Di’amah (w.118 H), tetapi
kitab itu tidak dicetak sampai sekarang. Disusul oleh kitab ”Nasikh
al-hadits wa mansukhuh” karya Al-Atsram (w. 261 H), disusul lagi oleh
kitab ”Nasikh al-Hadits wa Mansukhuh” karya Ibn Syahin (w. 386 H).
Tetapi kitab yang banyak beredar adalah Al-I’tibar fi al-Nasikh wa
al-Mansukh min al-Atsar” karya Abu Bakar al-Hamdzani (w. 584 H).
3. Asbab Wurud al-Hadits.
Teori
ini membahas tentang latar belakang datangnya sebuah hadits yang
diterima oleh seorang rawi (shahabat). Pembahasan ini sama seperti
ungkapan Ilmu Asbab al-Nuzul dalam Ulum al-Qur’an. Dalam kaitan ini,
wurud al-hadits juga banyak membahas persesuaian (munasabat) antara satu
matan hadits dengan matan hadits yang lain. Tokoh yang pertama kali
membahas tentang Asbab Wurud al-Hadits adalah Abu Hafsh al-’Ukburi (w.
468 H). Tetapi kitab yang lebih lengkap adalah Al-Bayan wa al-Tarif fi
Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif karya Ibn Hamzah al-Dimasyqi (w. 1120
H).
Nasikh-Mansukh dan Asbab Wurud al-Hadits adalah dua teori
Ilmu Hadits Dirayah yang berdekatan sasaranya, dan saling menunjang
dalam penerapan makna. Nasikh-Mansukh dalam hadits tidak dapat diketahui
tanpa melihat Wurud al-Hadits lebih dahulu. Hadits yang datang pertama
disebut mansukh, dan hadits berikutnya disebut nasikh. Dua teori itu
banyak dibahas oleh kitab-kitab Ulum al-Hadits.
Jika
nasikh-mansukh dan wurud al-hadits hanya diolah dengan pendekatan
tekstualis, seperti filosofis, atau yuridis, tologis saja, maka ilmu
hadits tidak dapat berkembang. Salah satu model pengembangan masalah ini
adalah menggunakan pendekatan interdisipliner, atau ilmu komunikasi dan
ilmu sosial lainnya. Setidaknya ada dua sistem nilai yang diterapkan
pada makna hadits yang berinteraksi, baik interaksi antara hadits dengan
hadits, atau hadits dengan kasus yang melingkari. Dua sistem itu adalah
sistem internal dan sistem eksternal (maa fi al-hadits dan maa haul
al-hadits).
Sistem internal adalah semua sistem nilai yang
dibawakan oleh sebuah hadits, ketika ia diterapkan pada satu makna, atau
pada maksud hadits yang dituju. Nilai itu terlihat ketika hadits itu
diberi interpretasi seperti nilai akidah, hukum fiqh, akhlak, nasihat,
do’a dan sebagainya. Dalam istilah lain, sistem internal mencakup juga
pola pikir, kerangka rujukan, struktur kognitif, atau juga sikap, yang
dikandung oleh matan hadits.
Sedangkan sistem eksternal terdiri
atas unsur-unsur yang ada dalam lingkungan di luar isi matan hadits.
Lingkungan itu, termasuk struktur yang mendorong munculnya matan hadits,
atau kejadian yang melatarbelakangi tampilnya sebuah hadits, atau
jawaban Rasulullah yang muncul karena pertanyaan sahabat. Lebih dari
itu, pemecahan sebuah hadits yang ditulis oleh seorang perawi pun bisa
diterima berdasarkan latar belakang munculnya pemecahan itu.
Ulama
pertama yang membukukan ilmu hadis dirayah adalah Abu Muhammad
ar-Ramahurmuzi (265-360 H) dalam kitabnya, al-Muhaddis al-Fasil bain
ar-Rawi wa al- wa ‘iz (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan
Pemberi Nasihat). Sebagai pemula, kitab ini belum membahas
masalah-masalah ilmu hadis secara lengkap. Kemudian muncul al-Hakim
an-Naisaburi (w. 405 H/1014 M) dengan sebuah kitab yang lebih
sistematis, Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis (Makrifat Ilmu Hadis).
C. Cabang-cabang Ilmu Hadist
Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah:
1. IImu Rijalil Hadist
Ilmu
yang membahas tentang para perawi hadits, baik dari sahabat, tabi’in,
maupun dari angkatan sesudahnya. Dengan ilmu ini dapatlah kita
mengetahui keadaan para perawi penerima hadits dari Rasulullah dan
keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. Di
dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para
perawi, mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para
perawi itu dalam menerima hadis.
Sungguh penting sekali ilmu ini
dipelajari dengan seksama, karena hadis itu terdiri dari sanad dan
matan. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan
separuh dari pengetahuan. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak
ragamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para
sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para
perawi-perawi, Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja,
Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah, atau
para mudallis, atau para pemuat hadis maudu’. Dan ada yang menerangkan
sebab-sebab dianggap cacat dan sebab-sebab dipandang adil dengan
menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan.
Ada
yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang
di dalam ilmu hadits disebut Mu’talif dan Mukhtalif. Dan ada yang
menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya, lain orangnya, Umpamanya
Khalil ibnu Ahmad. Nama ini banyak orangnya. Ini dinamai Muttafiq dan
Muftariq. Dan ada yang menerangkan nama- nama yang serupa tulisan dan
sebutan, tetapi berlainan keturunan dalam sebutan, sedang dalam tulisan
serupa. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Ini dinamai
Musytabah. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat.
2. Ilmul Jarhi Wat Takdil
Ilmu
Jarhi Wat Takdir, pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu
rijalil hadis. Akan tetapi, karena bagian ini dipandang sebagai yang
terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri.
Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah: “Ilmu yang
menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan
tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai
kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. ”
Ilmu Jarhi wat Ta’dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan
ilmu ini akan dapat dipisahkan, mana informasi yang benar yang datang
dari Nabi dan mana yang bukan.
Mencacat para perawi (yakni
menerangkan keadaannya yang tidak baik, agar orang tidak terpedaya
dengan riwayat-riwayatnya), telah tumbuh sejak zaman sahabat. Menurut
keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil, para ahli
telah menyebutkan keadaan-keadaan para perawi sejak zaman sahabat.
Di
antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadits ialah
Ibnu Abbas (68 H), Ubadah ibnu Shamit (34 H), dan Anas ibnu Malik (93
H). Di antara tabi’in ialah Asy Syabi(103 H), Ibnu Sirin (110H), Said
Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Dalam masa mereka itu, masih sedikit orang yang
dipandang cacat. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak
orang-orang yang lemah. Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsal-kan
hadits, adakalanya karena me- rafa-kan hadits yang sebenarnya mauquf dan
adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja, seperti Abu
Harun AI-Abdari (143 H).
Kitab bidang ilmu ini yang terkenal diantaranya “Al Jarhu wat Ta’dil” karya Abdur Rahman Bin Abi Hatim Ar Razy.
3. IImu Illail Hadis
Ilmu
yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat
mencacatkan hadis. Yakni menyambung yang munqati, merafakan yang mauqu
memasukkan satu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu
semuanya ini, bila diketahui, dapat merusakkan kesahihan hadist.
Ilmu
ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis, dan
sehalus-halusnya. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits melainkan
oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang
martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad
dan matan-matan hadits.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan bahwa
cara mengetahui ‘illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan
hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka, yang
dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini. Dengan cara ini
akan dapat diketahui apakah hadits itu mu’tal (ada ‘illatnya) atau
tidak. Jika menurut dugaan penelitinya ada ‘illat pada hadits tersebut
maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih .
Di antara para
ulama yang menulis ilmu ini, ialah Ibnul Madini (23 H), Ibnu Abi Hatim
(327 H), kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadist.
Selain itu, ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H),
Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AI-Hakim.
4. Ilmun nasil wal mansuh
ilmu
yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang
menasihkannya.Apabila didapati suatu hadits yang maqbul, tidak ada yang
memberikan perlawanan maka hadits tersebut dinamai Muhkam. Namun jika
dilawan oleh hadits yang sederajatnya, tetapi dikumpulkan dengan mudah
maka hadits itu dinamai Mukhatakiful Hadits. Jika tak mungkin dikumpul
dan diketahui mana yang terkemudian, maka yang terkemudian itu, dinamai
Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh.
Banyak para ahli yang
menyusun kitab-kitab nasih dan mam’uh ini, diantaranya Ahmad ibnu Ishaq
Ad-Dillary (318 H), Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H), Alunad
ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa
ulama lagi yang menyusunnya, yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H)
menyusun kitabnya, yang dinamai Al-lktibar. Kitab AI-Iktibar itu telah
diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H)
5. Ilmu Asbabi Wuruddil Hadist
Ilmu
yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan
masa-masanya Nabi menurunkan itu. Menurut Prof Dr. Zuhri ilmu Asbabi
Wurudil Hadits adalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab timbulnya hadits.
Terkadang, ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya, akan
menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan.
Penting
diketahui, karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadits,
sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran.
Disamping itu, ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran
islam secara komprehensif. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita
mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang
“Pertentangan”. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang
tertarik untuk menulis tema semacam ini.Misalnya, Abu Hafs Al- Akbari
(380-456H), Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin, yang lebih dikenal
dengan Ibn hamzah Al-Husainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya
Al-Bayan Wa Al Ta’rif Fi Asbab Wurud Al- hadits Al-Syarif.
Ulama
yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat
iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari, dari murid Ahmad
(309 H), Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibnu Muhammad, yang
terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H), dalam kitabnya
AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H.
6. Ilmu Talfiqil Hadist
Ilmu
yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits-hadits yang isinya
berlawanan.Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang
‘amm, atau menaqyidkan yang mutlak, atau dengan memandang banyaknya yang
terjadi. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. Di antara
para ulama besar yang telah berusaha menyusun, ilmu ini ialah
Al-Imamusy Syafii (204 H), Ibnu Qurtaibah (276 H), At-Tahawi (321 H) dan
ibnu Jauzi (597 H). Kitabnya bernama At-Tahqiq, kitab ini sudah
disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali
nilainya.
7. Ilmu Fannil Mubhammat
ilmu
untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan, atau
di dalam sanad. Di antara yang menyusun kitab ini, Al-Khatib Al
Baghdady. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy
dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat.
Perawi-perawi
yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan
selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari
Muqaddamah Fathul Bari.
8. Ilmu Ghoriebil Hadits
Yang
dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu
hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik, dan yang sudah
dipahami karena jarang dipakai, sehingga ilmu ini akan membantu dalam
memahami hadits tersebut. Kitab yang terkenal dalam ilmu ini diantaranya
“Al-Faiqu fi Gharibi’l Hadits” karya Imam Zamakhsyary
9. Ilmu Tashif wat Tahrif
Yaitu
ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya
(dinamai mushohaf), dan bentuknya (dinamai muharraf).
10. Ilmu Tawarikhir Ruwah
Ilmu
tentang hal-ihwal para rawi, tanggal lahir, tanggal wafat,
guru-gurunya, tanggap kapan mendengar dari gurunya, orang yang berguru
kepadanya, kota kampung halamannya, perantauannya, keadaan masa tuanya
dan semua yang berkaitan dengan per haditsan. Kitab Tawarikhir Ruwah
yang terkenal “At-Tarikhu’l-Kabir” karya Imam Bukhary dan “Tarikh
Baghdad” karya Imam Al Khatib Baghdady.
11. Ilmu Thabaqotur Ruwah
Ilmu yang pembahasannya diarahkan kepada kelompok orang-orang (rawi) yang berserikat dalam suatu alat pengikat yang sama.
Kitab bidang ilmu ini yang terkenal diantaranya “Thabaqatur Ruwah” karya Al Hafidz Abu ‘Amr Khalifah Bin Khayyath Asy Syaibany.
12. Ilmu Tawarikhu’l Mutun
Ilmu
yang menitik beratkan kapan dan dimana atau di waktu apa hadits itu
diucapkan atau peebuatan itu dilakukan Rasulullah saw. Kitab yang
terkenal dalam ilmu ini diantaranya “Mahasinu’l Ishthilah” karya Imam
Sirajuddin Abu Hafsh ‘Amar Bin Salar Al-Bulqiny.
13. Ilmu Mukhtaliful Hadits
Ilmu
yang membahas hadits hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan,
untuk dikompromikan, sebagaimana halnya membahas hadits hadits yang
sukar dipahami atau diambil isinya, untuk menghilangkan kesukarannya dan
menjelaskan hakikat-hakikatnya.
Kitab yang terkenal dalam bidang
ini diantaranya “Musykilu’l Hadits wa Bayanuhu” karya Abu Bakr Muhammad
Bin Al Hasan (Ibnu Furak) Al Anshary Al Asbihany.
Tags:
hukum islam