ILMU SOSIOLOGI

13 Maret 2015

A. Sejarah Lahirnya Sosiologi
          Fase permulaan, sosiologi tidak diletakkan sebagai suatu ilmu tersendiri, namun sosiologi berpangkal pada filsafat yang dikenal dengan “Ibu Ilmu Pengetahuan”. Filsafat pada masa itu mencakup segala usaha-usaha pemikiran mengenai masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman dan tumbuhnya peradaban manusia, berbagi ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat memisahkan diri dan mengejar tujuan masing-masing. Astronomi dan Fisika merupakan cabang ilmu filsafat yang pertama-tama memisahkan diri, kemudian diikuti ilmu kimia, biologi, dan geologi. Pada abad ke19, dua ilmu pengetahuan baru muncul yaitu psychologi (ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia) dan sosiologi (ilmu yang mempelajari masyarakat). Dengan demikian timbullah ilmu sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang didalam proses pertumbuhannya dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya seperti ekonomi, sejarah, ilmu jiwa dan lain sebagianya.
Abad ke-19, seorang ahli filsafat bangsa Prancis bernama Auguste Comte, menulis beberapa buah buku yang berisikan pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia berpendapat bahwa ilmu-ilmu  pengetahuan mempunyai urut-urutan tertentu berdasarkan logika, dan bahwa setiap penelitian dilakukan melalui tahap-tahap untuk kemudian mencapai tahap terakhir yaitu tahap ilmiah. Dia mempunyai anggapan bahwa semua penelitian terhadap sola-soal kemasyarakatan dan gejala-gejala masyarakat  memasuki tahap akhir  yaitu tahap ilmiah.  Oleh sebab itu dia menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu tentang masyarakat..
Bagi Aguste Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Istilah sosiologi untuk pertama kali diciptakan oleh Auguste Comte dan oleh karenanya Comte sering disebut sebagai bapak sosiologi. Istilah sosiologi ia tuliskan dalam karya utamanya yang pertama, berjudul The Course of Positive Philosophy, yang diterbitkan dalam tahun 1838. Karyanya mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah. Menurut Comte ilmu sosiologi harus didasarkan pada observasi dan klasifikasi yang sistematis bukan pada kekuasaan dan spekulasi. Hal ini merupakan pandangan baru pada saat itu.          
          Sejak Herbert Spencer mengembangkan suatu sitematika penelitian masyarakat dalam bukunya yang berjudul “Principles of Sociology” maka istilah sosiologi populer dan berkat usahanya, sosiologi berkembang dengan pesatnya. Sosiologi berkembang dengan pesatnya pada abad ke-20 terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat.

B.     Batasan Ilmu Sosiologi
Membedakan sosiologi dengan ilmu sosial lainnya masing terjadi kesimpangsiuran oleh para ahli. Perbedaan masih belum tegas dan bukan hanya menyangkut perbedaan dalam isi atau unsur-unsur objek yang sama, akan tetapi juga menyangkut perbedaan tekanan pada unsur-unsur objek yang sama atau lebih jelasnya pendekatan yang berbeda terhadap objek yang sama. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa ilmu sosiologi mempelajari masyarakat secara keseluruhan dan hubungan antara orang-orang dalam masyarakat tadi.
Menurut Waters dan Crook (1990), Sociology is the systematic analysis of the structure of social behavior.
          Dari definisi Waters dan Crook di atas setidaknya terdapat empat elemen penting, yang memberikan bukan saja penjelasan mengenai apa sosiologi itu, tetapi juga batas-batas yang membedakannya dari ilmu-ilmu sosial lain.
1)      Sosiologi mempelajari perilaku
Perilaku yang dikaji adalah perilaku dalam karakter sosial, bukan individual. Perilaku berkarakter sosial merupakan perilaku yang ditujukan bagi orang lain dan bukan bagi dirinya sendiri, serta memiliki konsekuensi bagi orang lain, atau perilaku itu merupakan konsekuensi dari orang lain. Jadi di sini ada hubungan timbal balik antara satu orang dengan orang lainnya.
2)      Sosial yang dipelajari oleh sosiologi itu adalah perilaku yang berstruktur.
Struktur menunjuk pada adanya pola (pattern) atau menunjuk aadaanya keteraturan tertentu. Suatu perilaku itu berstruktur jika terdapat pola atau keteraturan tertentu. Suatu perilaku sosial yang hanya terjadi sekali saja dan kemduian tidak terjadi lagi, bukanlah merupakan bidang kajians sosiologi. Sosiologi tidaklah semata-mata hanya menjelaskan secara deskriptif suatu perilaku sosial, tetapi lebih dari itu, sosiologi berupaya menjelaskan dan berusahaa memahami kaitan antara elemen-elemen perilaku sosial.
3)      Penjelasan sosiologi itu bersifat analitis
Setiap ilmu pengetahuan senantiasa terdiri dari (1) content / the body of knowledge atau substansi dari ilmu pengetahuan itu dan (2) methods / procedures atau tata cara bagaimana substansi pengetahuan itu diperoleh secara sistematis. Ini berarti bahwa dalam sosiologi terdapat pula prinsip-prinsip metodologis yang diterapkan dalam menjelaskan perilaku sosial tersebut, dan bukan berdasarkan pada konsensus atau kesepakatan yang berlaku khusus. Terdapat kaidah atau prinsip metodologi penelitian tertentu yang digunakan untuk menjelaskan perilaku sosial dalam sosiologi.
4)      Penjelasan sosiologi bersifat sistematis
Ini berarti bahwa dalam memahami perilaku sosial sosiologi merupakan suatu disiplin ilmu yang mengikuti tatanan atau aturan-aturan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

C.      Pengertian Sosiologi
Secara terminologis, “Sosiologi” berasal dari bahasa Latin yaitu socius yang berarti “kawan” dan bahasa Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Jadi Sosiologi artinya berbicara mengenai masyarakat. Sedangkan menurut para ahli adalah sebagai berikut :
1)     Emile Durkheim
            Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
2)     Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi
            Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
3)     Soejono Sukanto
            Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
4)     William Kornblum
            Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
5)     Allan Jhonson
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.
6)     Roucek & Waren
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan kelompok sosial.
7)     Soerjono Soekanto
            Sosiologi adalah ilmu yang kategoris, murni, abstrak, berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris, serta bersifat umum.
8)     Pitirim Sorokin
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari :
·                      hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral),
·                      hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial (misalnya gejala geografis, biologis, dan sebagainya)
·                       ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
9)     William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkoff
            Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
10) J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers
            Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
11) Max Weber
            Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang tindakan social atau perilaku-perilaku manusia
12) Paul B. Horton
            Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
13) Herbert Spencer
            Sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan dan proses kehidupan social sebagai suatu keseluruhan / suatu sistem.
14) Auguste Comte
            Sosiologi adalah Suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.
15) Anthony Giddens
            Sosiologi adalah Studi tentang kehidupan social manusia, kelompok-kelompok manusia dan masyarakat.
16) Mayor Polak
            Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan yakni hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.
17) Hassan Shadily
            Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta perubahannya
18) Mac Iver
            Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang hubungan-hubungan social yang terjadi dalam masyarakat
19) J. Gillin
            Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari interaksi yang timbul di dalam masyarakat
20) P.J. Baouman
            Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan tentang manusia dan hubungan-hubungan antar golongan manusia
21) Mr. J. Bierens De Haan
            Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan tentang masyarakat manusia, baik mengenai hakekatnya, susunannya, hubungannya, kodrat-kodrat yang menggerakkannya, mengenai kesehatan dan perkembangan masyarakat.
22) George Simmel
            Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari perhubungan sesama manusia ( Human Relationship )
23) Lester Frank Ward
            Sosiologi adalah Ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk meneliti kemajuan-kemajuan manusia dan apa saja yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya.

D.      Ciri-Ciri dan Hakikat Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang telah berdiri sendiri. Oleh karena itu telah memenuhi unsur-unsur ilmu pengetahuan.
Sosiologi sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut :
·  Sosiologi bersifat empiris, yaitu bahwasanya ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).
·  Sosiologi bersifat teoritis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil observasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori.
·  Sosiologi bersifat kumulatif, yang berarti bahea teori-teori dalam sosiologi disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuat teori-teori yang lama.
·  Sosiologi bersifat nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secara mendalam.
Sedangkan hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut :
1.                       Sosiologi adalah suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian. Pembedaan tersebut adalah pembedaan mengenai metode, akan tetapi menyangkut pembedaan isinya yang gunanya untuk membedakan ilmu-ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan gejala-gejala alam dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan gejala-gejala kemasyarakatan.
2.                       Sosiologi bukan merupakan ilmu yang normatif, akan tetapi adalah ilmu yang kategoris. Artinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini, dan bukan mengenai apa yang terjadi atau yang seharusnya terjadi. Sebagai suatu ilmu pengetahuan, sosiologi membatasi diri terhadap persoalan penilaian, artinya sosiologi tidak menetapkan kearah mana seharusnya berkembang dalam arti memberikan petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan masyarakat.
Hal ini bukan berarti bahwa pandangan-pandangan sosiologi tidak akan berguna bagi kebijakan kemasyarakatan dan politik, akan tetapi pandangan-pandangan sosiologi tak dapat menilai apa yang buruk dan apa yang baik, apa yang benar atau salah, serta segala sesuatu yang bersangkutan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Sosiologi  dapat menetapkan bahwa suatu masyarakat padasuatu waktu dan tempat  memiliki nilai-nilai yang tertentu, akan tetapi selanjutnya tidak dapat ditentukan bagaimana nilai-nilai tersebut seharusnya.
1.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni (pure science) dan bukan merupakan ilmu pegetahuan terapan (applied science). Pure science adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengembangkan dan membentuk ilmu pengetahuan secara abstrak hanya untuk mempertinggi mutunya, tanpa menggunakannya dalam masyarakat. Applied science adalah ilmu pengetahuan yang bertujauan untuk mengunakan dan menerapkan ilmu pengetahuan tersebut dalam masyarakat dengan maksud untuk membantu kehidupan masyarakat. Tujuan dari sosiologi adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang sedalam-dalamnya tentang masyarakat dan bukan mengguakan pengetahuan tersebut terhadap masyarakat. Sebagai perbandingan misalnya, seorang ahli fisika (ilmu alam)tidak mendirikan jembatan-jembatan, seorang ahli psikologi pekerjaannya bukanlah menyembukan orang-orang yang sakit pneumoniadan seorang ahli dalam ilmu kimia pekerjaannya bukan membuat obat-obatan. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta masyarakat yang mungkin dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan masyarakat.
2.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan merupakan ilmu pengetahuan yang kongkrit. Artinya, bahwa yang diperhatikannya adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat, tetapi bukan wujudnya yang kongkrit.
3.    Sosiologi bertujuan untuk menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola umum. Sosiologi meneliti dan mencari apa yang menjadi prinsip-prinsip atau hukum-hukum umum daripada interaksi antar manusia dan juga perihal sifat hakikat, bentuk, isi dan struktur dari masyarakat.
4.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.
5.    Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan ilmu pengetahuan yang khusus. Artinya, sosiologi mempelajari gejala yang umum ada pada setiap interaksi antar individu.

E. Perspektif Sosiologi
Beberapa perspektif dalam sosiologi, antara lain Perspektif Evolusi, Perspektif Interaksionis, Perspektif Fungsional, Perspektif Tatanan, dan Perspektif Konflik.
Perspektif Evolusi
Perpektif evolusi merupakan pandangan teoritis yang paling awal dalam sosiologi. Pandangan seperti ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu Khaldun. Para tokoh ini melihat pada pola perubahan dalam masyarakat. Mereka mengkaji masyarakat dengan menitikberatkan pada evolusinya.
Perspektif Interaksionis
Pandangan ini mengkaji masyarakat dari interaksi simbolik yang terjadi di antara individu dan kelompok masyarakat. Tokoh yang menganut pandangan interaksionis misalnya G.H Mead dan C. H Cooley. Mereka berpendapat bahwa interaksi manusia berlangsung melalui serangkaian simbol yang mencakup gerakan, tulisan, ucapan, gerakan tubuh, dan lain sebagainya. Pandangan ini lebih mengarah pada studi individual atau kelompok kecil dalam suatu masyarakat, bukan pada kelompok-kelompok besar atau institusi sosial.
Perspektif Fungsional
Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap sebagai sebuah jaringan teroganisir yang masing-masing mempunyai fungsi. Institusi sosial dalam masyarkaat mempunyai fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sebuah sistem stabil yang cenderung mengarah pada keseimbangan dan mejaga keharmonisan sistem. Pandangan ini banyak dianut intelektual Orde Baru dalam mendukung kekuasaan pemerintah.
Perspektif Tatanan (Order Perspective)
Pandangan ini mempunyai kecenderungan untuk melihat masyarakat dari titik tatanan dan stabilitasnya. Beberapa tokoh yang menggunakan pendekatan ini, misalnya Emile Durkheim, Max Weber, dan Auguste Comte.
Perspektif Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada pemikiran Karl Marx. Teori konflik melihat masyarakat berada dalam konflik yang terus-menerus di atara kelompok atau kelas. Dalam pandangan teori konflik masyarakat diakuasai oleh sebagian kelompok atau orang yang mempunyai kekuasaan dominan. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam pendekatan konflik adalah Lews Coser.

Related posts

ABOUT THIS BLOG

Media untuk berbagi dan memasyarakatkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa, SELAMAT MEMBACA.

© 2013 DUNIA LAIN. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.