KESEHATAN EMOSIONAL ANAK-ANAK DALAM TRAUMA

Posted in , ,
Tidak ada komentar:
12 Februari 2015



 PERSIAPAN PELATIH

Untuk Pelajaran in, Anda akan membutuhkan:
  • Alat Peraga 5-1: Respon Anak terhadap Trauma
  • Alat Peraga 5-2: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Anak terhadap Trauma
  • Alat Peraga 5-3: Dukungan bagi Anak-anak dalam Krisis

  • Untuk Pemanasan, Anda akan membutuhkan kertas dan pensil/krayon atau bahan-bahan transparan agar para peserta dapat menuliskan pengamatan-pengamatan mereka.

  • Apabila para peserta latihan tidak memiliki latar belakang dalam perkembangan masa kecil yang sehat dan normal, gunakan catatan-catatan dalam Lampiran A sebagai persiapan untuk membahas topik ini sebelum menyajikan pelajaran.

  • Bersiaplah untuk memceritakan cerita di bagian Diskusi dan dan pikirkanlah respon-respon yang tepat.


CATATAN: Pelajaran 6 adalah pelajaran lanjutan tentang kesehatan emosional anak dalam trauma, yang berfokus pada pengaruh trauma terhadap perilaku anak.


SEKILAS PELAJARAN (kolom 2)

Pemanasan

·         Menguraikan seorang anak yang sehat secara emosional

      Pelajaran

·         Tanggapan anak terhadap peristiwa traumatis
·         Gejala-gejala trauma
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi respon anak terhadap trauma
·         Memahami respon anak terhadap trauma
·         Menyediakan dukungan dalam trauma


     Kegiatan Belajar
  • Menentukan strategi-strategi penguasaan yang akan menolong kesehatan emosional anak ‘asuhan’ Anda


 

TUGAS PEMBELAJARAN

          Para peserta latihan akan mengenali fakor-faktor yang mempengaruhi kesehatan emosional anak dalam trauma dan mampu menggunakan informasi ini dalam perencanaan perhatian efektif terhadap anak-anak yang mengalami trauma.


Pemanasan

          Dalam kelompok-kelompok kecil, mintalah para peserta untuk membagikan cerita-cerita dari masa kecil mereka yang merupakan pengalaman-pengalaman baik bagi mereka. Minta mereka menuliskan kualitas-kualitas yang mereka alami  yang akan menguraikan seorang anak yang sehat emosinya (bahagia, gembira, dikasihi, diperhatikan, dan lain-lain.) Jelaskan bahwa anak-anak yang menderita trauma sering kehilangan perasaan-perasaan positif akan kasih dan perhatian. Sangat penting bagi para pendamping untuk mengenali perkembangan emosional anak yang sehat sebelum memahami pengaruh trauma terhadap kesehatan emosionalnya.

Pelajaran

            Catatan: Apabila para peserta latihan tidak mengetahui tahapan-tahapan perkembangan masa kecil yang normal, bahaslah pelajaran ini dengan  mereka. (Lihat Lampiran A).

Respon Anak terhadap Trauma

            Perilaku-perilaku bermasalah dalam anak-anak diperoleh dari banyak sumber. Satu faktor potensial yang mempengaruhi banyak anak ialah akibat-akibat yang datang kemudian secara psikologis karena menyaksikan atau menjadi korban dari suatu persitiwa traumatis. Bagi anak-anak, teror adalah kata yang jelas untuk menguraikan trauma. Perilaku anak-anak sesudah suatu trauma yaitu mereka menjadi agresif, apatis, kasar, penundukkan diri atau kemunduran yang berlebihan.  Kebanyakan perilaku ini  berakibat dari usaha-usaha mereka untuk mengatasi tanggapan-tanggapan ketakutan dan untuk membangun kembali rasa aman dalam dunianya. Bagaimanapun, tidak semua anak yang telah mengalami atau menyaksikan trauma akan menunjukkan perilaku-perilaku bermasalah. Walaupun tanggapan-tanggapan terhadap trauma hampir seragam di antara anak-anak yang mengalami tekanan traumatis, cara-cara mereka bertindak dapat kelihatan berbeda. Meskipun demikian, trauma secara luas mempengaruhi kesehatan emosional tiap anak.





Gejala-gejala Trauma


ALAT PERAGA 5-1
            Tekanaan traumatis muncul dalam berbagai bentuk dan suatu tingkatan intensitas penuh, sebagaimana tanggapan-tanggapan anak terhadapnya. Respon anak  terhadap trauma dapat bervariasi  tergantung sumber trauma tersebut dan keadaan-keadaan dari trauma itu sendiri maupun anak. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi respon anak terhadap trauma akan membantu para pendamping mendapatkan suatu pemahaman akan cara terbaik untuk memusatkan perhatiannya pada isu-isu trauma yang sedang dihadapi anak.
            Umumnya, anak-anak yang mengalami atau menyaksikan ancaman atau trauma-trauma yang ekstrim menanggapi dengan gejala-gejala yang sesuai dengan empat kategori berikut:
  • Memiliki ingatan yang kuat dan berulang-ulang  muncul dan mengganggu jalannya fungsi normal mereka.
  • Terlibat dalam perilaku yang diulangi secara terus menerus
  • Mengembangkan ketakutan trauma yang khas
  • Perubahan sikap terhadap teman, keluarga, hidup pada umumnya dan masa depan.

Anak juga mungkin ingin untuk tidak tahu menahu akan perasaan-perasaan mereka.


Faktor-faktor yang mempengaruhi respon anak terhadap trauma

            Banyak faktor yang sering dihubungkan satu sama lain menambahi tipe ini dan hebatnya respon anak terhadap tekanan traumatis. Faktor-faktor ini termasuk trauma yang terus menerus, hubungan anak dengan oknum pelaku, dekatnya anak terhadap pengalaman, sistem dukungan anak dan kepercayaan-kepercayaan dasar  anak  yang mempengaruhi pemahaman dan penanggulangan trauma.


Memahami Respon Anak terhadap Trauma

ALAT PERAGA 5-2

            Untuk memahami repson anak yang tepat, sangatlah menolong bila kita pertimbangkan hal-hal berikut:

Kepribadian Anak

            Apakah si anak emosinya normal dan bersikap tenang atau “lekas gugup” akan menjadi faktor yang menentukan dalam responnya terhadap trauma. Tidak ada dua anak yang serupa dan respon terhadap trauma sebagian tergantung kepada bagaimana dulunya anak telah mengatasi krisis-krisis setiap hari yang normal.




Pengertian Anak terhadap Situasi

            Anak-anak muda berpikir dan mengkonsepkan dalam bentuk-bentuk yang nyata; mereka mengerti hal-hal yang ada dan terjadi saat ini serta nyata  (yang dapat mereka jamah). Mereka tidak mudah mengerti apa yang sedang terjadi pada mereka dan apa implikasi-implikasinya dari apa yang telah terjadi. Kurangnya pengertian ini membuat situasi yang mereka hadapi menjadi lebih menakutkan sehingga mereka tidak punya cara untuk memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka.
            Sangat penting untuk menilai bagaimana seorang anak merasakan suatu situasi trauma dalam hubungan dengan peran dan tindakan-tindakannya, respon keluarganya, respon teman-temannya dan respon orang-orang secara umum.

Sifat-sifat Trauma

            Sifat-sifat trauma, termasuk frekwensinya (sekali waktu atau terus menerus), intensitas, konteks (alami atau dibuat-buat) dan apakah anak dapat menjadi aktif atau pasif dalam trauma, semua mempengaruhi arti dan sumber-sumber yang dapat digunakan anak-anak untuk untuk memulihkan kembali suatu peristiwa traumatis dan menolong mereka untuk mendapatkan kembali kendali pribadi atas dunia mereka. Jika traumanya sangat besar dan tidak diantisipasi, anak-anak akan mengalami pengalaman yang berat dan gangguan pola pemikiran. Jika traumanya berulang-ulang dan diantisipasi, seperti sering terjadi dalam kasus pelecehan seksual atau fisik, anak-anak akan menunjukkan suatu kehilangan perasaan yang kronis tentang peristiwa tersebut dan mengalami suatu rasa kemarahan, ketakutan dan kesedihan yang disamaratakan. Kedua tipe trauma ini dapat saling melengkapi dan berakibat dalam suatu percampuran gejala-gejala.

Hubungan terhadap oknum pelaku

            Trauma-trauma yang disebabkan oleh individu-individu yang anak-anak percayai dan bergantung dapat menciptakan pengaruh-pengaruh yang berbeda daripada yang dilakukan oleh orang-orang yang tak dikenal. Secara umum, lebih dekat hubungan antara oknum pelaku dan korban, semakin berat gejala-gejala trauma tersebut.

Tempat tinggal

            Tempat tinggal adalah suatu faktor kunci dalam menentukan bagaimana anak sebaiknya mengatasi. Sumber yang tersedia dalam keluarga akan mengatur kerangka bagi mekanisme-mekanisme penanggulangan si anak dan akan memudahkan penyembuhan dalam tiap anak. Anak-anak yang telah diberikan suatu tempat tinggal yang kokoh, perhatian juga penerimaan dan kasih, dan yang telah dibantu untuk  menghadapi pengalaman-pengalaman masa lalu yang sedih, cenderung untuk mengatasinya lebih baik daripada mereka yang mengatasinya sendiri. Frekwensi, kekerasan dan konsekwensi dari pengalaman traumatis juga menentukan bagaimana anak-anak mengatasinya.

Waktu dan Keamanan
            Anak-anak membutuhkan waktu dan keamanan untuk memperlihatkan emosi-emosi lewat permainan, permainan dapat menjadi strategi penaggulangan yang kuat bagi anak-anak. Anak-anak sering menarik diri dan bermain permainan-permainan yang mereka sudah tahu berulang kali. Mereka sedang mencoba memulihkan suatu kesadaran akan tatatertib di dunia mereka- untuk mendapatkan kembali suatu kesadaran untuk hal-hal yang akan datang, keamanan dan hal-hal normal. Anak-anak yang lebih besar dapat membaca sebuah buku yang telah mereka baca berkali-kali atau juga berulang-ulang membicarakan hal-hal yang sama (ingatan-ingatan yang baik dari masa lalu atau ingatan-ingatan yang buruk dari trauma sekarang ini). Atau mereka mungkin memainkan permainan-permainan anak-anak kecil untuk mencapai tujuan yang sama.

(Kemampuan untuk secara emosional menarik diri kembali dari ketakutan atas situasi kepada rasa aman & perlindungan dari kasih Allah, melindungi anak-anak secara psikologis dari menjadi rusak oleh bahaya di sekitar mereka.)

Pemeliharaan Rohani

          Pemeliharan rohani juga memegang peran penting bagaimana anak mengatasinya. Anak-anak yang mengenal Yesus sebagai teman dan Juru Selamat mereka memiliki seseorang untuk mereka datangi, bicara & nyanyi. Mereka juga merasakan dijaga dan aman selagi mereka melalui trauma. Kemampuan untuk secara emosional menarik diri kembali dengan cara ini dari ketakutan atas situasi kepada rasa aman dan perlindungan dari kasih Allah melindungi anak-anak dari menjadi rusak oleh bahaya disekitar mereka. Sangat penting menolong anak-anak dalam bahaya untuk mengembangkan hubungan pribadi dengan Yesus dan untuk menemukan cara-cara yang membangun dan bukannya merusak untuk mengatasi tekanan mereka.

Kebudayaan

          Kebudayaan mempengaruhi bagaimana anak-anak menanggapi trauma. Mereka belajar sambil mengamati bagaimana yang lain bereaksi terhadap kesedihan. Respon keluarga dan dukungan adalah suatu faktor kunci  tapi juga ini ditentukan oleh budaya.  Dalam kebanyakan budaya, keluarga adalah pelindung dan penyedia bagi anak-anaknya. Ketika orang tua ada dalam keadaan emosional yang sehat dengan kesadaran kontrol selama krisis, situasinya akan menjadi tidak menakutkan bagi si anak. Memperlihatkan emosi-emosi Anda atau tidak; memberitahukan orang lain tentang trauma Anda; menjadi marah atau menarik diri; mendapatkan perlindungan dari polisi, keluarga, atau gereja adalah respon-respon yang dianjurkan atau tidak dalam suatu konteks sosial.

Usia dan Tingkat Perkembangan Anak

            Respon anak kepada tekanan traumatis cenderung tidak berubah-ubah dengan usia perkembangan mereka. Mereka mengekspresikan kesedihan mereka sesuai dengan kesehatan fisik mereka dan kemampuan, kedewasaan mental (pemikiran dan perasaan) dan kedewasaan sosial mereka (bagaimana mereka bermain, berbicara dan berhubungan dengan yang lain). Usia dan jenis kelamin juga merupakan faktor-faktor yang penting.

  • Anak-anak Usia Balita
Anak-anak balita mungkin melihat kepada orang-orang dewasa untuk membangun kembali rasa aman mereka dan menjelaskan arti situasi tersebut. Oleh sebab itu, mereka lebih menunjukkan kebutuhan kasih sayang (lengket, merengek dan kolokan) serta kemunduran (kembali ke pola-pola perilaku yang berhasil ketika mereka lebih kecil). Anak-anak di usia ini menggunakan fantasi dan bermain untuk menemukan arti. Jika metode-metode ini gagal, mereka menyangkalinya dan menarik diri. Mereka lebih cepat mengerti untuk mencari rasa nyaman lewat sakit atau rasa capek.

  • Anak-anak Usia Sekolah
Anak-anak usia sekolah melakukan kembali hal-hal yang rumit dan mungkin tidak banyak bergantung pada fantasi. Sambil mereka mencoba untuk menghadapi perasaan-perasaan yang meningkat terhadap ketidak-cukupan dan kebutuhan untuk membangun kontrol, perilaku mereka akan kelihatan berubah-ubah. Lewat luapan kemarahan yang terlebih dahulu, mereka telah belajar bahwa menjadi perilaku agresif dan memerintah biasanya berhasil.
             Anak-anak usia sekolah juga biasanya menunjukkan suatu penurunan dalam penampilan di sekolah atau tugas-tugasnya, mencoba lebih keras dan lebih keras lagi untuk menjadi sempurna untuk menghindari konsekwensi yang sudah pernah terjadi. Apabila anak-anak bebas mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dan peristiwa-peristiwa, mereka akan membicarakannya terus menerus atau bahkan secara obsesif. Jika mereka tidak bebas berbicara, atau jika pembicaraan mereka tidak menuju ke suatu resolusi, maka keluhan-keluhan psikomatis, seperti sakit kepala atau sakit perut, makin menonjol.

  • Usia Remaja
Anak-anak remaja akan menunjukkan beberapa atau semua dari perilaku-perilaku di atas. Pengaruh pada rasa percaya diri mereka dan harga diri menjadi lebih dinyatakan. Untuk anak-anak demikian, perubahan sikap akan digantikan dengan suasana hatinya. Daripada naik turun dari “lengket” menjadi agresif, dari sangat aktif menjadi menarik diri, anak mungkin akan tinggal dalam suatu suasana hati yang ingin menarik diri dan terisolir, menyesuaikan dan menyenangkan, atau kemarahan dan pemberontakan. Anak-anak ini cenderung untuk memerankan kemarahan mereka di ‘dunia nyata’. Tindakan ini akan seperti berdebat dengan orang dewasa, tidak taat kepada aturan-aturan, memakai narkoba, kegiatan seksual yang tidak tepat atau pengrusakkan. Mereka akan memanifestasikan suatu penentuan yang kuat untuk menunjukkan bahwa mereka yang mengontrol hidup mereka sendiri dan betapapun berbahayanya hidup mereka, mereka akan bertahan.

 

Menyediakan Dukungan dalam Krisis


ALAT PERAGA 5-3

            Para orangtua dan pendamping perlu menyediakan dukungan yang berkesinambungan kepada anak-anak yang terkena trauma. Salah satu cara utama ialah membantu anak-anak dalam trauma untuk menolong diri mereka mendapatkan kembali suatu kesadaran untuk kontrol. Anak-anak yang mengalami trauma telah mengalami dirinya tak berdaya dan tidak dalam kontrol. Penyembuhan harus termasuk pengenalan bahwa perasaan-perasaan itu memang terjadi pada waktu trauma tapi tidak perlu berlanjut sampai masa sekarang.
            Walaupun para pendamping tidak menemui masalah-masalah ketika menghadapi anak-anak yang marah, menantang atau agresif, mengingat bahwa mereka sedang bergumul dan memerlukan pertolongan orang dewasa adalah sangat penting. Anak-anak membutuhkan dukungan  yang konsisten, yang penuh kasih dengan batasan-batasan yang jelas dan disiplin yang positif untuk menguatkan mereka.
            Sambil menyediakan kesempatan-kesempatan bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka sendiri, para pendamping perlu berhati-hati untuk tidak mendesak terlalu keras untuk mendapatkan suatu cerita atau sebaliknya memaksa anak. Biarkan anak-anak merasa aman, diterima dan siap untuk berbicara sesuai dengan keadaan mereka. Sebaliknya, meletakkan segala beban sendiri kepada anak untuk menunjukkan perasaan-perasaan mereka, atau menghindari hal itu dan menganggap anak-anak akan “bekerja sendiri”, tidak akan memberi dukungan yang mereka butuhkan. Apabila, para orang dewasa tidak menujukan perasaan-perasaan mereka kepada anak-anak, mereka akan berpikir bahwa membicarakan perasaan-perasaan mereka itu salah dan bahwa perasan-perasaan mereka itu tidak normal atau buruk dan tidak perlu dibahas.

Diskusi


(Di Rwanda, seorang gadis kecil kira-kira berusia lima tahun yang sedang berjalan-jalan di jalan, menggenggam sebuah handuk yang sobek-sobek. Seorang pendamping mendengar nyanyiannya dan coba mempelajari tentang anak ini. Dia menemukan bahwa anak ini yatim-piatu karena perang dan menurut para tentara disitu yang melindunginya, ia tidak punya tempat tinggal kecuali di jalan-jalan. Si  pendamping mendengarkan nyanyiannya, ternyata lagu yang sudah biasa didengar, “Yesus sayang padaku.” Gadis kecil ini mampu menarik kembali emosinya dari ketakutan dan kesendirian atas situasinya kepada rasa aman dan perlindungan kasih Allah.)


Bacakan cerita di atas dan minta kelas untuk menentukan faktor-faktor penanggulangan yang tersedia untuk memampukan anak ini untuk mengatasi situasinya dan, dari daftar di bagian Pemanasan, petunjuk-petunjuk emosional sehat mana yang ada.
            Kemudian bahaslah faktor-faktor tambahan apa yang akan menolong dia mengatasinya.
            Jawaban-jawaban yang memungkinkan adalah:
  • Kepribadian anak (dia tenang dan tidak menangis)
  • Pemeliharaan Rohani (bernyanyi tentang kasih Yesus)
  • Mungkin para tentara yang mejaganya memberi anak ini suatu rasa aman
  • Handuk itu mungkin satu-satunya yang tersisa yang ia miliki.

Faktor-faktor tambahan yang mungkin membantu adalah:
·         Suatu pemahaman atas situasinya. (Kejadian itu terjadi begitu cepat tanpa persiapan baginya untuk berharap atau mengerti apa yang terjadi.)
·         Faktor keamanan, rumah dan keluarga.


Kegiatan Belajar
            Kumpulkanlah para peserta latihan dalam kelompok-kelompok anak mereka dan tentukan faktor penanggulangan yang tersedia bagi anak ‘asuhan’ mereka yang akan menolongnya dalam kesehatan emosionalnya. Kemudian daftarkan faktor-faktor tambahannya juga, untuk menolong si anak menjadi lebih baik dan sehat emosionalnya. (Misalnya, tiap anak akan dapat mengatasinya dengan lebih baik bila mereka mendapat dukungan dari rumah dan keluarga.) Ketika semua kelompok telah menyelesaikan tugasnya, minta mereka membagikan jawaban-jawaban mereka dalam kelompok yang lebih besar.


Related posts

0 komentar:

ABOUT THIS BLOG

Media untuk berbagi dan memasyarakatkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa, SELAMAT MEMBACA.

© 2013 DUNIA LAIN. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.