HAMZAH FANSURI

Tidak ada komentar:
16 Februari 2015



Artikel ini tidak diperuntukkan bagi yang belum begitu mengenal kekayaan khazanah intelektual Islam.
Hamzah Fansuri lebih dikenal dengan pemikiran sufistik panteistik. Para peneliti menganggap ajaran Hamzah tersebut sangat dipengaruhi oleh pandangan wahdatul wujud Ibnu ‘Arabi. Pandangan Hamzah mengenai kesauan alam-Tuhan terlihat dalam berbagai karya prosa dan sya’ir yang dikemukakannya. Namun demikian, sesungguhnya Hamzah, di dalam berbagai prosa dan sya’irnya juga mengemukakan pandangan cinta. Dalam pandangan Hamzah Fansuri dalam berbagai sya’irnya rasa cinta kepada Tuhan diuangkapkan Hamzah bukan hanya dalam tataran bentuk, namun ia juga mengemukakan bagaimana seorang manusia bisa mendapatkan Cinta-Nya. Pandangan Cinta Hamzah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mewarisi pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bidang wujud Tuhan, namun ia juga memiliki pengetahuan dalam bidang tasawuf cinta dari sufi lainnya, seperti Rumi, Attar, Ain al-Qudhdat dan lainnya. Dari kajian penulis, pemikiran mahabbah (cinta) yang dikemukakan Hamzah merupaka sebuah bangunan yang berdampingan dengan pemahamannya tentang Tuhan. Karenanya Tuhan dan Cinta tidak bisa dipisahkan.
Pendahuluan
Hamzah Fansuri dikenal sebagai sufi dan pemikir tasawuf dari Aceh yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya dalam bidang tasawuf. Ia dilekatkan dengan pemikiran wahdat al wujud yang diprakarsai oleh Ibnu ‘Arabi. Bahkan ia dianggap menjadi penyebar pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi di Nusantara. Omar A. Bakar menyatakan kalau karya-karya Hamzah Fansuri merupakan penjelasan dan pengulangan pemikiran Ibnu ‘Arabi dalam bahasa Melayu. Pandangan ini diberikan setelah melihat kecenderungan dan inti pemikiran Hamzah Fansuri yang tidak terlalu berbeda dengan pemikiran para sufi sebelumnya. Hamzah sendiri sering menyebut nama para sufi Islam masa lalau dalam karyanya, terutama para sufi falsafi seperti Abu Yazid al-Bistami, Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi dalam beberapa karyanya. Ini semakin meguatkan tesis para ahli yang menempatkan Hamzah sebagai pensyarah pemikiran sufi klasik Islam dalam bahsa Melayu, dapat menjadi hujjah bahwa Hamzah dianggap tidak memiliki pemikiran original dalam masalah tasawuf.
Di sisi lain, meskipun Hamzah menyebutkan beberapa nama Sufi klasik Islam dalam berbagai karyanya, ataupun kesamaan ajaran dan pemikiran tasawuf Hamzah dengan mereka, tetap menjadikan Hamzah sebagai seorang sufi dan pemikiran tasawuf Nusantara yang istimewa dalam pandangan beberapa sarjana yang lain. Abdul Hadi WM dalam Tasawuf Tertindas, Kajian Heurmaneutika Puisi Hamzah Fansuri mengemukakan bahwa Hamzah telah menjadi duta bagi perkembangan dan kemajuan sastra Melayu. Ia adalah perintis sastra becorak Islam di Nusantara. Maka tidak heran, sampai saat ini karyanya menjadi inspirasi bagi pasa sastrawan. Sebelum Abdul Hadi, Syeed Naquib al-Attas dalam The Mysticisme of Hamzah Fansuri mengatakan bahwa Hamzah memiliki peran besar dalam membantu Bangsa Melayu dan bangsa lain di Nusantara menimba ilmu dari pemikiran Arab-Parsi, dan melalui itu pula dapat menimba ilmu dari falsafah Yunani Kuno dan memperkaya kebudayaan bangsa di Nusantara serta memperkokoh hubungannya dengan bangsa lain di laut tengah. Dalam penelitiannya, al-Attas juga menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri bukan hanya masalah wahdat al- wujud semata, namun dalam berbagai karyanya juga terdapat pemikiran lainnya yang berhubungan dengan tasawuf dan kehidupan manusia. Setidaknya ada delapan pokok pemikiran tasawuf Hamzah Fansuri yang dikemukakan oleh al-Attas; yakni doktrin dan pengajaran kebatinan tentang keesaan Tuhan; berbagai hal yang diciptakan Tuhan di dunia; kontinyuitas ciptaan, takdir; masalah roh dan jiwa; atribut yang ilahi; arti pemunahan diri; dan pengetahuan dan kebebasan dalam ilmu kebatinan Islam atau Sufism.
Dalam hemat penulis, dua sisi pandang yang telah dikemukakan oleh sarjana sebagaimana tersebut di atas masih menyisakan berbagai topik yang mungkin dikaji dalam karya-karya yang ditinggalkan oleh Hamzah Fansuri yang ada saat ini. Salah satu di atantaranya adalah masalah mahabbahtullah. Mahabbatullah atau cinta ketuhanan merupakan salah satu pemikiran tasawuf Hamzah yang tersirat secara konsisten dalam berbagai karyanya, baik puisi-puisi ruba’i, maupun dalam berbagai essainya. Ini menunjukkan Hamzah memiliki perhatian besar dalam masalah mahabbatullah dan dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan.
Mahabbahtullah sendiri bukanlah pemikiran baru dalam khazanah pemikiran Tasawuf Islam. Pada awal perkembangan tasawuf saja sudah lahir Rabi‘ah al-‘Adawiyah yang sya’ir cintanya memberikan nuansa baru dalam pemikiran tasawuf masa itu yang cenderung pada kezahidan dan penempatan Tuhan sebagai objek yang ditakuti. Rabi‘ah berhasil membangun fondasi pemikiran Cinta kepada Tuhan yang mempu memberikan paradigma lain dalam melihat Tuhan. Ia menemptakan Tuhan sebagai Kekasih yang ia dan Tuhan saling merindukan. Perkembangan ini mendapat sistematisasi pada masa Ibnu ‘Arabi. Dengan filsafat mistisnya tentang wujud ia memperjelas hubungan yang didasari cinta antara Tuhan dan hamba. Di mana wujud cinta Tuhan kepada hamba termanifestasi pada penciptaan Adam (dan ketrunannya) dan wujud cinta hamba kepada-Nya adalah kesadaran akan keberadaaanya yang semu. Pada saat yang hampir bersamaan pula, di Konya,Turki, Jalaluddin Rumi meliris puluhan ribu sya’ir cinta dalam Matsnawi. Sya’ir-sya’ir ini mencoba mendeskripsikan hubungan cinta manusia dan Tuhan yang abadi.
Di Nusantara, seriring dengan berkembangnya agama Islam, maka mazhab tasawuf yang dilandasi cinta ini juga berkembang. Hamzah Fansuri merupakan salah satu sufi yang memiliki keterpengaruhan dengan filsafat mistis yang berlandskan cinta sebagaimana yang pernah berkembang dalam tasawuf Islam klasik. Dalam berbagai sya’irnya ia mencoba menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan yang dilandsai cinta. Cintalah yang akan membawa kesempurnaan hidup manusia dan membawanya pada kebahagiaan hakiki yakni perjumpaan dengan Allah.
Tulisan ini berusaha mendeskripsikan hakikat cinta dalam pandangan Hamzah Fansuri. Hakikat cinta hanya akan diperoleh setelah mengetahui makna, proses pencapaian dan manifestasinya. Dengan demikian pembahasan akan dimulai dengan kajian terhdap pandangan mahabbah dalam perspektif mazhab tasawuf Islam klasik. Dengan demikian akan mampu memberikan fondasi bagi posisi pemikiran Hamzah dalam mahbbah nantinya.
Diskursus Mahabbah Dalam Pandangan Sufi
Pemaknaan dan pemahaman cinta dalam dunia sufi bukanlah hal yang baru dan asing. Sejak kemunculannya, sufisme telah dihiasi dengan pemaknaan cinta mistik oleh para sufi. Rabi’ah al-Adawiyah sebagai sufi pertama yang mengemukakakn masalah mistisisme cinta ini mengatakan bahwa mencintai Allah dengan dua model cinta:
“Aku mencintaimu dengan dua cinta,
cinta rindu dan cinta karena Kau layak dicinta
adapun cinta rindu, karena hanya Kau kukenang selalu bukan selain-Mu
adapun cinta karena Kau layak dicinta, karena Kau singkapkan tirai sampai Kau nyata bagiku
baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku.
namun bagi-Mu Sendiri sekalian puji.”
Menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin cinta rindu (hub al-hawa) yang dimaksudkan Rabi’ah adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya kepadanya, dengan seketika. Dan cinta kepada-Nya karena Dia layak dicintai ialah cinta keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap padanya. Cinta kedua inlah yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah Hadits Qudsi bahwa Allah berfirman: “Bagi hambaku yang shaleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit kalbu manusia.”
Penjelasan lain mengenai cinta ini diberikan oleh Abu Thalib al-Makiy dalam Quth al-Qulub. Ia mengatakan bahwa makna cinta karena rindu adalah rasa cinta yang timbul karena nikmat dan kebaikan yang diberikan Allah. Adapun yang dimaksud nikmat di sini adalah nikmat materil dan bukan spirituil, karena hub di sini bersifat hub inderawi. Walau demikian, cinta rindu yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan tidak berkurang karena bertambah atau berkurangnya nikmat. Hal ini karena Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri tetapi sesuatu yang ada di sebalik nikmat tersebut. Sementara cinta karena Kau layak dicintai adalah cinta yang tidak didorong oleh kesenangan inderawi, tetapi didorong oleh Zat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apapun. Dan kewajiban yang dijalankan oleh Rabi’ah semuanya bermula dari perasaan cinta dari Zat yang dicintai.
Rabi’ah sendiri saat ditanyai mengenai cinta mengatakan:
“Cinta datang dari keabadian (azal) dan melampaui hingga keabadian (abad). Dia tidak menemukan siapapun dalam delapanbelas ribu alam untuk meminum seteguk darinya. Dia akhirnya mencapai al-Haqq, dan dari-Nya-lah ungkapan ini tinggal: Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya.” Mereka bertanya: “Apakah engkau melihat Dia yang engkau sembah?” Rabi’ah menjawab: “Jika aku tidak melihat, maka aku tidak akan menyembah.”
Rabi’ah menempatkan kehadiran Dia Yang dicintai dalam hati sebagai unsur pokok dari cinta. Dengan kehadiran Tuhan dalam hatilah ia membuang segala sesuatu selain Dia. Bahkan kehadiran-Nya menjadikan ia tidak memiliki tempat untuk mencintai sesama manusia –bahkan Rasulullah- dan juga membenci setan.
“Akibat cinta yang menggelora, aku tidak memiliki alasan untuk membenci setan. Aku melihat Rasulullah dalam sebuah mimpi. Dia berkata, Rabi’ah apkah engkau mencintaiku? Aku berkata, Ya Rasulullah, siapakah yang tidak mencintaimu? Tetapi cinta al-Haqq telah begitu meliputiku sehingga tidak ada tempat dalam hatiku untuk cinta atau benci terhadap yang lain.”
Sufi lainnya, Maulana Jalaluddin Rumi adalah sufi lain yang mengemukakan masalah mahabbah dalam tasawufnya. Penjelasan Rumi dalam berbagai sya’ir dan karya bebasnya kerapkali dilandasaan pada cinta ketuhanan. Namun demikian ia menegaskan cinta adalah sesuatu yang tidak teridentifikasikan. Akal yang menjelaskan cinta laksana keledai dalam paya, dan pena yang berusaha menggambarkannya akan hancur berkeping-keping. Karena hati manusia merupakan “astroable Cinta”, yang memperlihatkan berbagai aspek dan posisinya. Rumi menjelaskan masalah ini dengan ungkapan-ungkapan segar, paradoks yang aneh, dan dialog kecilyang hidup antara hatinya dan kekuatan luar biasa tersebut. Ia jarang melakukan pengulangan. Ungkapan yang satu dengan yang lain susul menyusul dengan kecepatan yang menyesakkan nafas walaupun kelihatannya susunanya tidak logis. Dalam sebuah sya’irnya ia “bebincang” dengan Cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa Cinta tersebut:
Satu malam aku bertanya kepada Cinta: “Katakan,siapa sesungguhnya dirimu?”
Katanya: “Aku ini kehidupan abadi,
Aku memperbanyak kehidupan indah.”
Kataku: “Duhai yang di luar tempat,
di manakah rumahmu?”
katanya: “Aku ini bersama api hati,
dan di luar mata yang basah,
Aku ini tukang cat; karena akulah setiap pipi
berubah jadi berwarna kuning.
Akulah utusan yang ringan kaki,
sedangkan pecinta adalah kuda urusanku.
Akulah merah padamnya bunga tulip,
harganya barang itu,
Akulah manisnya ratapan, penyibak
segala yang tertabiri…
Namun demikian, dalam beberapa sya’irnya Rumi menjelaskan makna cinta dengan anlogi yang beragam:
Cinta adalah ikatan kasih sayang, ia adalah sifat Tuhan
Cinta adalah sifat Tuhan, dan takut adalah sifat hamba yang menderita karena nafs dan kerakusan.
Ketahuilah bahwa Cinta dan Kasih adalah sifat-sifat Tuhan, dan takut, oh kawan, bukan Sifat Tuhan!
Yang lain menyebut Engkau Cinta, tetepai aku memanggil Dikau Sultan Cinta, oh Dikau yang berada di seberang konsep ini dan itu, jangan pergi tanpa diriku!
Jika aku harus meneruskan keteranganku tentang Cinta, walau seratus kebangkitan berlalu, belum juga purna. .
Analogi cinta seperti yang ada dalam sya’irnya di atas selalu konsisten dalam semua ungkapan Rumi tentang cinta lainnya yang menunjukkan Rumi memiliki “mazhab” cinta tersendiri. Konsistensi Rumi dalam “mazhab” cinta inilah yang menjadi dasar bagi F. C. Happold memasukkannya sebagai tokoh terkemuka dalam mistisisme cinta dan penyatuan mistik. Minstisisme jenis ini berusaha membebaskan diri dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri, melalui jalan persatuan dengan alam dan Tuhan, yang membawa rasa damai dan memberi kepuasan kepada jiwa. Merasa sepi, mistikus cinta berusaha menanggalkan ‘diri khayali’ atau ego rendah (nafs) dan pergi menuju diri yang lebih agung, diri sejati dan hakiki, mendapatkan keriangan bersama Tuhan.
Sudahkah engkau mendengar maklumat Sang Kaisar? Segenap keindahan akan meruyak dari balik selubung.
Inilah maklumat-Nya: “Tahun ini Aku ingin agar gula murah harganya.”
Tahun yang membahagiakan! Luar biasa, hari yang terberkati! Kaisar Yang Murah Hati! Tawa kemenangan, sungguh menawan!
Saat ini, terlarang untuk duduk berdiam di rumah, karena Sang Kaisar sedang berjalan-jalan di alun-alun.
Mari bersama kami menuju ke sana dan saksikan perjamuan yang penuh keceriaan-baik yang tampak maupun tersembunyi.
Meja telah disiapkan, pemberkatan yang bersahutan terdengar menggema: halwa dan unggas panggang.
Para pelayan berdiri bagai rembulandi depan saki; musisi memainkan nada yang lebih manis dari kehidupan.
Namun, cinta kepada Sang Raja telah membebaskan ruh para pemabuk dari saki dan meja perjamuan.
Engkau berkata: “Di mana hal ini mungkin terjadi?” Kujawab: “Di sana, tepat di titik tempat pikiran “Di mana” menyeruak.”
Dalam pandangan Rumi, cinta dapat digunakan sebagai jalan untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dari dirinya senidiri. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan, cinta adalah keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, untuk menjelmakan diri cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta. Cinta sejati dapat membawa seseorang mengenal alam akibat yang tersembunyi dalam bentuk-bentuk lahiriah kehidupan. Oleh sebab cinta dapat membawa manusia kepada kebenaran yang tinggi maka cinta menjadi unsur terpenting dalam transendensi diri. Cintalah sayap yang membuatnya dapat terbang tinggi menuju Yang Satu. Dalam hal ini Rumi mengungkapkan:
Inilah Cinta: Terbang tinggi ke langit, mi’raj
Mencampakkan, setiap saat, ratusan hijab
Mula-mula dengan menyangkal dunia (zuhud)
Pada akhirnya jiwa berjalan tanpa kaki jasad
Sejak itu jiwa memandang dunia telah raib
Dan tak peduli semua yang tampak di depan mata
O hati, kurestui kau dan kuizinkan
Memasuki lingkaran (da’irah) para pencinta!
Memandang jauh ke balik dunia rupa
Menembus lubuk terdalam hakikat
Dari mana napas ini datang kepadamu, o jiwaku?
Dari mana keasyikan ini datang, o hati?
O burung (ruh) bicaralah dalam bahasa burung
Kini kutahu makna tersembunyi kata-katamu!

Dalam sya’ir lain ia mengungkapkan:
Lewat Cintalah semua yang pahit akan jadi manis,
Lewat Cintalah semua tembaga akan jadi emas
Lewat Cintalah semua endapan
akan jadi anggur murnni
Lewat Cintalah semua kesedihan akan jadi obat
Lewat Cintalah si mati akan jadi hidup
Lewat Cintalah raja akan jdi budak!
Karenanya Rumi mengajak para pecinta menunju hakikat cinta, meninggalkan dan melupakan segala yang lainnya. Sebab “kematian terburuk adalah hidup tanpa cinta.” Tuhan adalah keindahan, Dia indah dan mencintai keindahan. Dengan demikian tidak ada keindahan lain selain keindahan Tuhan. Keindahan hakiki hanyalah milik-Nya sedankan keindahan yang lain hanyalah bayangan dari keindahan Hakiki.
Dalam bagian lain Rumi mengatakan bahwa cinta merupakan alasan kenapa alam diciptakan. “Aku ingin (cinta) untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia.” Hadits inienggambarkan bagaimana Tuhan merupakan sesuatu yang tersembunyi yang berkeinginan untuk dikenal. Berkeinginan di sini tidak dimaksudkan sebagai penggambaran kebutuhan Tuhan sebab Tuhan tidak membutuhkan segala sesuatu. Cinta bukanlah zat, namun ia sifat, selaiknya sifat Tuhan yang lainnya.
Makhluk-makhluk bergerak karena Cinta, Cinta oleh keabadian tanpa permulaan: angin menari-nari karena semesta, pohon-pohon disebabkan oleh angin. Tuhan berkata pada Cinta, “Jika bukan karena keindahanmu, untuk apa Aku mesti menatap pada cermin eksistensi?”

Sya’ir Cinta Hamzah Fansuri
Sebagaimana saya kemukakan dalam pembahasan di atas, mahabbah bukanlah wacana yang asing dalam tasawuf Islam. Sejak awal kemunculan tasawuf sebagai suatu mazahab pemikiran, maka wacana tersebut telah tumbuh dan berkembang. Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi mengatakan bahwa mahabbah memiliki tiga tingkatan: pertama, cinta orang biasa, yakni selalu mengingat Allah dengan berzikir, suka menyebut nama Allah SWT dan memperoleh kesenangan dalam dialog dengan-Nya serta senantiasa memuji-Nya. Kedua, cinta orang siddiq (jujur, benar), yaitu orang yang mengenal Allah SWT seperti kebesaran-Nya, kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya. Cinta ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Allah SWT sehingga ia dapat melihat yang ada pada Allah SWT. Ia mengadakan “dialog” dengan Allah dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini membuat orang sanggup menghilangkan kehendak dan sifatnya sendiri, sementara hatinya penuh dengan perasaan cinta dan selalu rindu kepada Allah. Ketiga, cinta orang arif, yaitu cinta orang yang tahu betul akan Allah SWT, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta tapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Cinta pada tingkatan ke tiga inilah yang menyebabkan seorang hamba dapat berdialog dan menyatu dengan (kehendak) Allah.
Pandangan Hamzah Fansuri dalam masalah ini agaknya terkait erat dengan apa yang dimasukkan dalam kategori ketiga oleh Al-Sarraj. Dalam salah satu Ruba’i-nya Hamzah mengatakan:
Mahbubmu itu tiada ber-hail
Fa ainama tuwallu jangan kau ghafil
Fa samma wajhullah sempurna wasil
Inilah jalan orang yang kamil
Syamsuddin al-Sumatrani dalam Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri, mengatakan bahwa dari syair ini Hamzah ingin menjelaskan bagaimana hakikat hubungan antara seorang pecinta dan yang dicintainya. Bait pertama menjelaskan tentang keterbukaan Allah dari hijab bagi seorang pecintanya. Ia dapat disaksikan oleh pecinta tanpa ada apapun yang membatasi padangannya. Hal ini dijelaskan lagi dalam bait kedua di mana Allah itu sendiri ada di mana saja sang pecinta menghadakan wajahnya. Tatakala seorang pecinta telah jatuh cinta dengan cinta yang benar pada yang dicintainya, maka wajah sang Kekasih akan termanifestasi dalam segala apa yang dilihatnya. Fa samma wajhullah menguatkan bahwa dimana-mana ada wajah-Nya. Sehingga pecinta sejati tidak akan pernah kehilangan kesempatan melihat-Nya. Inilah cinta sejati bagi seorang pecinta.
Melihat Tuhan bisa saja terjadi dan dilakukan oleh seorang salik karena bagi seorang salik, Tuhan bukanlah zat yang tersembunyi. Ia zahir dan nyata di mata batin sang pecinta. Rahman sebagai sifat Tuhan dan iapula cinta, dan cinta itu adalah Wujud, yakni eksistensi Tuhan itu sendiri.
Rahman itulah yang bernama wujud
Keadaan Tuhan yang sedia ma’bud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari rahman itulah sekalian maujud
Rahman di sini adalah rahman dalam ati zatiyah. Hal ini terlihat karena hal ini dilimpahkan kepada semua –ras- manusia tanpa pilih kasih, Islam, Nasrani dan Yahidi sama saja. Ia ada sejak zaman azali dan bahkan dari rahman itulah semuanya diciptakan.
Ma’bud itulah yang terlalu bayan (nyata)
Pada kedua alam kull yawm huwa fi sya’n
Ayat ini dari surah al-rahman
Sekalian alam di sana hayran
Dalam bait ini Hamzah menjelaskan kesatuan Tuhan dengan ciptaannya. Kull yawm huwa fi sya’n menunjukkan “kesibukan-Nya” mengurus alam. Setiap hari ia menyatu dengan alam dan mengurus makhluk-Nya. Maka, dalam posisi Tuhan seperti ini, setiap salik pecintanya akan mendapatkannay dengan mudah dan melihatnya pada segala sesuatu.
Haqiqat itu terlalu ‘iryan
Pada rupa kita sekalain insan
Aynama tuwallu suatu burhan
Fa tsamma wajh Allah pada sekalian makan
Aynama tuwallu…. Fa tsamma wajh Allah (QS:: 2: 115) menggambarkan bahwa wajah Allah termanifestasi dalam setiap diri insan dan segala yang wujud. Manifestasi wujud Tuhan dalam Insan ini disinggung pula dalam hadits, Allah menciptakan Adam menyerupai shurah (rupa) al-Rahman. Dalam hal ini maka Adam mendapatkan segala rupa lain dari alam semesta yang berupa miniaturnya. Sementara wajah Allah berarti Nur-Nya. Ia adalah hakikat nur, sehingga nur-nur yang lain berasal dari Nur-Nya.
Akhir dari perjalan seorang salik adalah mendapatkan cinta Ilahi yang akan mennjadikannya sebagai insan kamil. Penggapaian ini berwujud pada kesadaran kesatuan pandang antara diri dan Tuhan, seperti terungkap dalam sya’irnya:
Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian alam di dalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhi-nya tiada beroleh thariq
Seorang salik harus terus menerus berusaha menggapai cinta Ilahi tertinggi dengan kesadaran akan kebersatuannya. Hal ini dilakukan dengan pelaksanaan ajaran Islam dengan sempurna pula. Salah satu usaha dasar yang diperlukan adalah pembersihan jiwa.
Aho segera kita yang asyqi
Ingat-ingat akan makna insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimua supaya Sultani

Kenal dirimu hai anak ‘alim
Supaya engkau senantiasa salim
Dengan dirimu yogya kau qaim
Itulah hakikat shalat dan shaim

Dirimu itu bernama khalil
Tiada bercerai dengan rabbul al-jalil
Jika dapat ma’na dirimu akan dalil
Tiada berguna mazhab dan sabil

Kullu man ‘alaihafanin ayat min rabbihi
Menyatakan makna irji’I ila ashliki
Akan insan yang beroleh tawfiqihi
Supaya karam di dalam sirru sirrihi

Situlah wujud sekalian fanun
Tinggallah engkau dari mal wal al-banun
Engkaulah ‘asyiq terlalu junun
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Langkah pertama dan utama yang harus diperhatikan seorang salik dalam menuju Tuhan adalah meningkatkan kehidupan ruhani sehingga ia semakin dekat dengan sifat-sifat Tuhan dan akan mengenalnya dengan baik. Seorang salik mesti terus menerus menempauh jalan hakikat ini, sebab iru merupakan hakikat terdalam dari peribadatan kepada Allah. Jika seseorang telah mengenal dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan-Nya maka tidak perlu lagi baginya mazhab-mazhab ibadah sebagaimana diamalkan oleh orang awam.
Ketika ia menggapai posisi tertinggi dalam maqam kedekatan dengan Tuhan, maka sang salik dianggap telah mampu memancarkan nur ketuhanan dan alm dirinya, atau dikenal dengan manusia sebagai wadah tajalli Tuhan. Manusia seperti ini adalah manusia sempurna. Manusia paripurna, atau disebut juga dengan istilah adi manusia atau al-insan al-kamil, merupakan wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia. Kebahagiaan-kebahagiaan yang konstan yang dialami oleh manusia akan membawanya menjadi manusia sempurna. Manusia sempurna berarti wujud terbaik yang diekspresikan oleh manusia dengan kemampuan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya.
Pembicaraan mengenai al-insan al-kamil mendapatkan porsi yang sangat besar dalam tradisi sufi, terutama setelah Ibn 'Arabi dan muridnya al-Jili. Pembahasan mengenai insan kamil dalam perspektif al-Jili tidak bisa dilepaskan dari konsep al-insan al-kamil yang dikembangkan oleh Ibn 'Arabi sebelumnya. Inti dari tasawuf Ibn ’Arabi pada dasarnya adalah al-insan al-kamil, yang dikembangkan dari konsep wahdat al-wujud-nya.
Al-insan al-kamil seperti dikembangkan oleh para sufi tradisional Islam tersebut menempatkan al-insan al-kamil sebagai manusia yang mampu mencerminkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Pemancaran sifat Tuhan dalam al-insan al-kamil dimungkinkan karena di dalam dirinya memang terdapat potensi ketuhanan yang disebut dengan dimensi ruh.
Dalam pandangan Hamzah Fansuri, kemulian manusia terletak pada kesempurnaannya dalam berhubungan dengan Allah. Manusia yang paling sempurna adalah mereka yang mampu memabifestasikan keseluruauhan sifat Tuhan dalam diriya. Dalam Burung Pingai Hamzah menyatakan:
Mazhar Allah akan rupanya
Asma Allah akan namanya
Malaikat akan tentaranya
‘akulah wasil’ akan katanya

Sayapnya bernama furqan
Tubuhnya bersurat Qur’an
Kakinya Hannan dan Mannan
Daim bertengger di tangan Rahman

Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan angganya
Nur Allah kana matanya
Nur Muhammad daim sertanya
Syair di atas menggambarkan posisi manusia yang telah menyatu dengan Tuhan. Ia menggambarkan bagaimana keseluruhan dirinya diliputi oleh asma’ dan sifat Tuhan. Tidak ada sisi dalam dirinya yang tidak diliputi Tuhan. Bagaikan Tuhan ia dikawal malaikat-Nya dan berdiri di atas kakinya yang juga merupakan malaikat-Nya (Hannan dan Mannan). Dalam tataran inilah manusia menjadi sempurna:
Dengarkan, hai anak jamu
Unggas itu sekalian kamu
Ilmunya yogya kau ramu
Supaya jadi mulai adamu


Kesimpulan
Dari paparan di atas terlihat bahwa Hamzah menjelaskan mahabbah dalam pandangan Hamzah adalah perjalanan dan pencapaian. Perjalanan dilakukan dengan suluk yakni upaya-upaya penyucian diri dari segala sesuatu yang duniawi menuju hakikat Ilahi. Penyucian diri dilakukan terus menerus hingga ia menggapai cinta hakiki yakni Tuhan. Dalam tataran tertinggi penggapaiannya maka ia akan “menyatu” dengan Tuhan dan menjadi menifes Tuhan dalam alam.
Cinta adalah hakikatt Tuhan yang Wujud dalam alam. Ia menampakkan dirinya berupa surah dalam diri manusia. Setiap manusia yang menempah jalan menuju Tuhan mesti membersihkan diri dari sifat keduniawian. Sifat ketuhanan akan masuk dalam diri yang telah bebas dari sifat keduniawiannya. Seseorang yang telah mampu menampakkan sifat-sifat ketuhanan dalam irinya ia adalah insan kamil.
Hamzah Fansuri menggambarkan mahabbah sebagai landasan sangat penting dalam tasawuf. Seperti ualma-ulama tasawuf sebelumnya, Hamzah Fansuri menempatkan Tuhan sebagai Zat “tanpa murka” karena cinta-Nya lebih besar dari murka-Nya. Karenanya seorang salik hendaknya melihat Tuhan dari wajah cinta dan mengabaikan wajah murka. Dengan demikian aia akan menjadi seorang salik yang akan menjumpai Tuhan dalam cinta, sebab hanya dalam cintalah kebahagiaan dan kesempurnaan hakiki akan tercapai.

Related posts

0 komentar:

ABOUT THIS BLOG

Media untuk berbagi dan memasyarakatkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa, SELAMAT MEMBACA.

© 2013 DUNIA LAIN. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.