PEKERJAAN MULIA MENYAPU MESJID

Tidak ada komentar:
01 Juli 2015


Sumber : Harian Tribun Timur
Berulangkali saya mendapati tukang sapu jalanan, yang tugasnya membersihkan jalan raya yang kita lewati setiap saat, membetulkan posisi penutup hidung-mulutnya –semacam masker—yang sedikit longgar, dan terkadang melorot ketika mobil truk besar lewat dengan kencang di dekatnya. Saya bertanya dalam hati, berapa besar upahnya setiap bulan. Apa cukup untuk menafkahi isteri dan anak-anaknya? Apakah mereka juga akan dapat tunjangan hari raya (THR)?
Ketika sampai di masjid, saya memperhatikan tukang sapu masjid, yang kerjanya membersihkan –menyapu, mengepel, membuang sampah – menjelang dan setelah jamaah shalat. Saya bergumam, berapa besar gajinya setiap bulan? Apakah cukup untuk menafkahi anak isterinya?
Pada bulan puasa kali ini, kita baca di koran dan dengar di televisi bahwa harga listrik naik, harga cabe juga naik, barang-barang kebutuhan pokok yang lain pun ikut naik. Saya ingat tukang sapu jalanan dan tukang bersih masjid tadi. Di mana dia belanjakan upah yang diperolehnya. Di pasar Pa’baeng-baeng, pasar Terong, atau pasar Sentral? Karena mungkin dia tidak ke Mall, uangnya nggak cukup. Dia tidak kenal yang namanya pasar ’kering’, boleh jadi pasar ’basah’ pun dia tidak akrab. Jadi di mana dia belanja? Tuhan Maha Kuasa, ternyata hidup juga. Puasa juga, tarawih juga, dan ikut juga meramaikan masjid pada buka puasa.
Sambil merenungkan akan ke-Maha Kuasaan Tuhan, saya teringat sebuah hadis dari Abu Dzarr r.a. Ia berkata, Nabi SAW bersabda: Diperlihatkan kepadaku perbuatan umatku, yang baik maupun yang buruk. Aku mendapati di antara bagian perbuatan yang baik itu di antaranya adalah menghilangkan gangguan dari jalan; dan aku mendapati di antara bagian amal yang buruk adalah membiarkan ludah yang berceceran di masjid tanpa ditutupi (dibuang) (HR. Muslim).
Menyingkirkan sampah, secuil beling (kaca) di jalan yang dapat membahayakan orang lain, atau membersihkan ludah yang tercecer di masjid, sering dianggap sebagai pekerjaan sepele dan karenanya diremehkan. Padahal, melakukan perbuatan tersebut, di samping sebagai amal shaleh, pekerjaan tersebut memiliki keutamaan di sisi Allah sehingga dua perbuatan yang sederhana itu ditampakkan-Nya kepada Nai Muhammad SAW.
Ketika kita melewati jalan yang mulus dan bersih, kita sering tidak ingat ada orang yang membersihkannya. Ketika kita masuk ke masjid yang rapih dan bersih, kita sering lupa bahwa ada orang yang membersihkan dan merapihkannya. Kedua petugas kebersihan ini, terkadang tidak di-’rekeng’, dan karenanya sering dilupa kalau ada pembagian rezeki. Pak Walikota, Pak Bupati, kalau ada pembagian THR, tolong dahulukan mereka. Manusia menganggapnya enteng, tetapi Tuhan memuliakannya. Mengambilnya sebagai contoh, di dalam hadis Nabi yang mulia, saya kira bukanlah kebetulan. Kedua pekerjaan ini memang sangat penting. Tidak dapat dibayangkan kalau kedua pekerja ini mogok satu minggu saja. Maka jalanan akan penuh sampah, dan masjid akan penuh sisa-sisa air liur dan air ludah yang mengotori masjid.
Islam mementingkan kebersihan. Kedua pekerjaan ini adalah pangkal kebersihan.Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang bertaubat dan suka kepada orang-orang pembersih.” dan Nabi SAW bersada: ”kebersihan itu adalah (bagian) dari iman.
Wa Allahu a’lam.

Related posts

0 komentar:

ABOUT THIS BLOG

Media untuk berbagi dan memasyarakatkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa, SELAMAT MEMBACA.

© 2013 DUNIA LAIN. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.