PEMBELAJARAN TAHFIDZUL QUR'AN

Tidak ada komentar:
24 Juni 2015

1.  Pengertian pembelajaran tahfidz Al-Qur’an
 Pembelajaran adalah suatu proses seseorang dalam belajar. Yang dimaksud dengan belajar menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Perubahan-perubahan tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku.
Beberapa ahli memberikan pengertian belajar seperti diuraikan dibawah ini:
a.    Sardiman A. M. bahwa belajar adalah rangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik menuju keperkembangan pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa, dan karsa.[1]
b.    Drs. Slamet menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sehingga hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[2]
c.    Morgan, dalam buku Intriduction to Psychology mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang  relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[3]
d.    Witherington, dalam buku Education Psychology bahwa belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.[4]
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
Sedangkan tahfidz Al-Qur’an terdiri dari dua suku kata, yaitu tahfidz dan Al-Qur’an, yang mana keduanya mempunyai arti yang berbeda. Pertama tahfidz yang berarti menghafal, menghafal dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab hafidza - yahfadzu - hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa.[5]
Menurut Abdul Aziz Abdul Ra’uf definisi menghafal adalah “proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar”. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti menjadi hafal.”[6]
Kedua kata Al-Qur’an, menurut bahasa Al-Qur’an berasal dari kata qa-ra-a yang artinya membaca, para ulama’ berbeda pendapat mengenai pengertian atau definisi tentang Al-Qur’an. Hal ini terkait sekali dengan masing-masing fungsi dari Al-Qur’an itu sendiri.
Menurut Asy-Syafi’i, lafadz Al-Qur’an itu bukan musytaq, yaitu bukan pecahan dari akar kata manapun dan bukan pula berhamzah, yaitu tanpa tambahan huruf hamzah di tengahnya. Sehingga membaca lafazh Al-Qur’an dengan tidak membunyikan ”a”. Oleh karena itu, menurut Asy-syafi’i lafadz tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Berarti menurut pendapatnya bahwa lafazh Al-Qur’an bukan berasal dari akar kata qa-ra-a yang artinya membaca. Sebab kalau akar katanya berasal dari kata qa-ra-a yang berarti membaca, maka setiap sesuatu yang dibaca dapat dinamakan Al-Qur’an.
Sedangkan menurut Caesar E. Farah, Qur’an in a literal sense means ”recitation,”reading,[7]”. Artinya, Al-Qur’an dalam sebuah ungkapan literal berarti ucapan atau bacaan. 
Sedangkan menurut Mana’ Kahlil al-Qattan sama dengan pendapat Caesar E. Farah, bahwa lafazh Al-Qur’an berasal dari kata qara-a yang artinya mengumpulkan dan menghimpun, qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya ke dalam suatu ucapan yang tersusun dengan rapi. Sehingga menurut al-Qattan, Al-Qur’an adalah bentuk mashdar dari kata qa-ra-a yang artinya dibaca.
Kemudian pengertian Al-Qur’an menurut istilah adalah kitab yang diturunkan kepada Rasulullah saw, ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.[8] Setelah melihat definisi menghafal dan Al-Qur’an di atas dapat disimpulkan bahwa Tahfidz Al-Qur’an adalah proses untuk memelihara, menjaga dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw di luar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan maupun sebagiannya.
Sedangkan program pendidikan menghafal Al-Qur’an adalah program menghafal Al-Qur’an dengan mutqin (hafalan yang kuat) terhadap lafazh-lafazh Al-Qur’an dan menghafal makna-maknanya dengan kuat yang memudahkan untuk menghindarkannya setiap menghadapi berbagai masalah kehidupan, yang mana Al-Qur’an senantiasa ada dan hidup di dalam hati sepanjang waktu sehingga memudahkan untuk menerapkan dan mengamalkannya.[9]
2.  Dasar dan hikmah menghafal Al-Qur’an
Secara tegas banyak para ulama’ mengatakan, alasan yang menjadikan sebagai dasar untuk menghafal Al-Qur’an adalah sebagai berikut :
a.    Jaminan kemurnian Al-Qur’an dari usaha pemalsuan.
Sejarah telah mencatat bahwa Al-Qur’an telah dibaca oleh jutaan manusia sejak zaman dulu sampai sekarang. Para penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang yang di pilih Allah untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dari usaha-usaha pemalsuannya. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-Hijr ayat  9:
Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.”[10]

b.    Menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah
Melihat dari surat Al-Hijr ayat 9 diatas bahwa penjagaan Allah terhadap Al-Qur’an bukan berarti Allah menjaga secara langsung fase-fase penulisan Al-Qur’an, tetapi Allah melibatkan para hamba-Nya untuk ikut menjaga Al-Qur’an. Melihat dari ayat di atas banyak ahli Qur’an yang mengatakan bahwa hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah, diantaranya adalah :
Ahsin W. mengatakan bahwa hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah. Ini berati bahwa orang yang menghafal Al-Qur’an tidak boleh kurang dari jumlah mutawatir sehingga tidak akan ada kemungkinan terjadinya pemalsuan dan pengubahan terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an.[11]
Kemudian menurut Abdurrab Nawabudin bahwa apabila Allah telah menegaskan bahwa Dia menjaga Al-Qur’an dari perubahan dan penggantian, maka menjaganya secara sempurna seperti telah diturunkan kepada hati Nabi-Nya, maka sesungguhnya menghafalnya menjadi fardhu kifayah baik bagi suatu umat maupun bagi keseluruhan kaum muslimin.[12]
Setelah melihat dari pendapat para ahli Qur’an di atas dapat disimpulkan bahwa hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah, yaitu apabila diantara kaum ada yang sudah melaksanakannya, maka bebaslah beban yang lainnya, tetapi sebaliknya apabila di suatu kaum belum ada yang melaksanakannya maka berdosalah semuanya.
Jadi wajar jika manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an menjadi sangat mulia, baik di sisi manusia apalagi di sisi Allah, di dunia dan di akhirat. Kemudian berikut ini ada beberapa hikmah menghaf Al-Qur’an :
a.    Al-Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah dan kenikmatan bagi penghafalnya. Ini sesuai dengan firman Allah swt. yang berbunyi:
Artinya: ”Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.[13] (QS. As-Shaad: 29)

b.    Hafidz Qur’an merupakan ciri orang yang diberi ilmu
c.    Fasih dalam berbicara dan ucapannya.
d.    Al-Qur’an memuat 77.439 kalimat. Jika seluruh penghafal Al-Qur’an memahami seluruh arti kalimat tersebut berarti dia sudah banyak sekali menghafal kosa kata bahasa arab yang seakan-akan ia menghafal kamus bahasa arab.
e.    Dalam Al-Qur’an banyak terdapat kata-kata hikmah yang sangat berharga bagi kehidupan. Secara menghafal Al-Qur’an berarti banyak menghafal kata-kata hikmah.
f.     Hafidz Qur’an sering menjumpai kalimat-kalimat uslub atau ta’bir yang sangat indah. Bagi seseorang yang ingin memperoleh rasa sastra yang tinggi dan fasih untuk kemudian bisa menikmati karya sastra Arab atau menjadi satrawan Arab perlu banyak menghafal kata-kata atau uslub Arab yang indah seperti syair dan amtsar (perumpamaan) yang tentunya banyak terdapat di Al-Qur’an.
g.    Mudah menemukan contoh-contoh nahwu, sharaf, dan juga balaghah dalam Al-Qur’an.
h.   Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat hukum, dengan demikian secara tidak langsung seorang penghafal Al-Qur’an akan menghafal ayat-ayat hukum. Yang demiakian ini sangat penting bagi orang yang ingin terjun di bidang hukum.
i.      Orang yang menghafal Al-Qur’an akan selalu mengasah hafalannya. Dengan demikian otaknya akan semakin kuat untuk menampung berbagai macam informasi.
j.      Penghafal Al-Qur’an adalah orang yang akan mendapatkan untung dalam perdagangannya dan tidak akan merugi.
k.    Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi para penghafal Al-Qur’an.
Selain itu ada beberapa tujuan pembelajaran tahfidzul Qur’an secara terperinci yakni sebagai berikut:
a.    Siswa dapat memahami dan mengetahui arti penting dari kemampuan dalam menghafal Al-Qur’an.
b.    Siswa dapat terampil menghafal ayat-ayat dari suratsurat tertentu dalam juz „amma yang menjadi materi pelajaran.
c.    Siswa dapat membiasakan menghafal Al-Qur’an dan supaya dalam berbagai kesempatan ia sering melafadzkan ayat-ayat Al-Qur‟an dalam aktivitas sehari-hari.[14]
Selain itu juga tujuan yang terpenting yakni untuk menumbuhkan, mengembangkan serta mempersiapkan bakat hafidz dan hafidzah pada anak, sehingga nantinya menjadi generasi cendekiawan muslim yang hafal Al-Qur’an.
3.  Syarat menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an adalah pekerjaan yang sangat mulia. Akan tetapi menghafal Al-Qur’an tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan, oleh karena itu ada hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum menghafal agar dalam proses menghafal tidak begitu berat. 
Diantara beberapa hal yang harus terpenuhi sebelum seseorang memasuki periode menghafal Al-Qur’an ialah :
a.    Mampu mengosongkan benaknya dari pikiran - pikiran dan teori-teori, atau permasalahan-permasalahan yang sekiranya akan mengganggunya. Mengosongkan pikiran lain yang sekiranya mengganggu dalam proses menghafal merupakan hal yang penting. Dengan kondisi yang seperti ini akan memepermudah dalam proses menghafal Al-Qur’an karena benar-benar fokus pada hafalan Al-Qur’an.
b.    Niat yang ikhlas. Niat adalah syarat yang paling penting dan paling utama dalam masalah hafalan Al-Qur’an. Sebab, apabila seseorang melaukan sebuah perbuatan tanpa dasar mencari keridhaan Allah semata, maka amalannya hanya akan sia-sia belaka.
c.    Izin dari orang tua, wali atau suami. Semua anak yang hendak mencari ilmu atau menghafalkan Al-Qur’an, sebaiknya terlebih dahulu meminta izin kepada kedua orang tua dan kepada suami (bagi wanita yang sudah menikah). Sebab, hal itu akan menentukan dan membantu keberhasilan dalam meraih cita-cita untuk menghafalkan Al-Qur’an.[15]
d.    Tekad yang kuat dan bulat. Tekad yang kuat dan sungguh-sungguh akan mengantar seseorang ke tempat tujuan, dan akan membentengi atau menjadi perisai terhadap kendala-kendala yang mungkin akan datang merintanginya.[16] Sebagaimana firman Allah swt berikut:
Arinya: “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”[17] (QS. Al-Israa’: 19)

e.    Sabar.  Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor-faktor yang sangat penting bagi orang yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena dalam proses menghafal Al-Qur’an akan banyak sekali ditemui berbagai macam kendala.
f.     Istiqamah. Yang dimaksud dengan istiqamah adalah konsisten, yaitu tetap menjaga keajekan dalam menghafal Al-Qur’an. Dengan perkataan lain penghafal harus senantiasa menjaga kontinuitas dan efisiensi terhadap waktu untuk menghafal Al-Qur’an.
g.    Menjauhkan diri dari maksiat dan perbuatan tercela. Perbuatan maksiat dan perbuatan tercela merupakan sesuatu perbuatan yang harus dijauhi bukan saja oleh orang yang sedang menghafal Al-Qur’an, tetapi semua kaum muslim umumnya. Karena keduanya mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa dan mengusik ketenangan hati, sehingga akan menghancurkan istiqamah dan konseantrasi yang telah terbina dan terlatih sedemikian bagus.
h.   Mampu membaca dengan baik. Sebelum penghafal Al-Qur’an memulai hafalannya, hendaknya penghafal mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, baik dalam Tajwid maupun makharij al-hurufnya, karena hal ini akan mempermudah penghafal untuk melafadzkannya dan menghafalkannya.
i.      Berdo’a agar sukses menghafal Al-Qur’an.[18]
4.  Adab-adab penghafal Al-Qur’an
a.    Menghindarkan diri dari perbuatan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penghasilan pekerjaan dalam kehidupannya.
Imam Abu Sulaiman Al-Khatabi menceritakan larangan mengambil upah atas pembacaan Al-Qur’an dari sejumlah ulama’, diantaranya Az Zuhri dan Abu Hanifah. Sejumlah ulama’ mengatakan boleh mengambil upah bila tidak mensyaratkannya, yaitu pendapat Ibnu Sirin, Hasan Bashri, dan sya’bi. Imam atha’, Imam Syafi’i, Imam Malik dan lainnya berpendapat boleh mengambil upah, jika disyaratkan dan dengan akad sewa yang benar.
b.    Memelihara bacaannya.[19]
Ulama’ salaf mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dalam jangka waktu pengkhataman Al-Qur’an. Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa mereka mengkhatamkan Al-Qur’an dalam setiap bulan, ada juga yang khatam setiap sepuluh hari, ada juga yang hanya seminggu mengkhatamkan Al-Qur’an, bahkan ada juga yang khatam Al-Qur’an yang hanya ditempuh sehari semalam.
Diantara yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari semalam adalah Utsman bin Affan r.a, Tammim Ad-Daari Said bin Jubair, Mujahid, As-Syafi’i dan lainnya. Diantara yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari adalah Sali bin Umar r.a. Qadhi mesir di masa pemerintahan muawiyah.
a.    Khusu’ Orang yang menghafal Al-Qur’an adalah pembaca panji-panji Islam. Tidak selayaknya ia bermain bersama orang-orang yang suka bermain, tidak mudah lengah bersama orang-orang yang lengah dan tidak suka berbuat yang sia-sia bersama orang-orang yang suka berbuat sia-sia. Yang demikian itu adalah demi mengagungkan Al-Qur’an.
b.    Memperbanyak membaca dan shalat malam.

B.  Membaca dan menghafal Al-Qur’an
1.  Teori menghafal Al-Qur’an
Kata menghafal dapat disebut juga sebagai memori, dimana apabila mempelajarinya maka membawa kita pada psikologi kognitif, terutama pada model manusia sebagai pengolah informasi.
Menurut Atkinson yang dikutip oleh Sa’dullah mengatakan proses menghafal melewati tiga proses yaitu:[20]
a.    Encoding (Memasukan informasi ke dalam ingatan) Encoding adalah suatu proses memasukan datadata informasi ke dalam ingatan. Proses ini melalui dua alat indera manusia, yaitu penglihatan dan pendengaran. Kedua alat indra yaitu mata dan telinga, memegang peranan penting dalam penerimaan informasi sebagaimana informasi sebagaimana banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, dimana penyebutan mata dan telinga selalu beriringan.
b.    Storage (Penyimpanan) Storage adalah penyimpann informasi yang masuk di dalam gudang memori. Gudang memori terletak di dalam memori panjang (long term memory). Semua informasi yang dimasukkan dan disimpan di dalam gudang memori itu tidak akan pernah hilang. Apa yang disebut lupa sebenarnya hanya kita tidak berhasil menemukan kembali informasi tersebut di dalam gudang memori.
c.    Retrieval (Pengungkapan Kembali) Retrieval adalah pengungkapan kembali (reproduksi) informasi yang telah disimpan di dalam gudang memori adakalanya serta merta dan adakalanya perlu pancingan. Apabila upaya mengingat kembali tidak berhasil walaupun dengan pancingan, maka orang menyebutnya lupa. Lupa mengacu pada ketidakberhasilan kita menemukan informasi dalam gudang memori, sungguhpun ia tetap ada disana.
Selanjutnya, menurut Atkinson dan Shiffrin sistem ingatan manusia dibagi menjadi 3 bagian yaitu: pertama, sensori memori (sensory memory); kedua, ingatan jangka pendek (short term memory); dan ketiga, ingatan jangka panjang (long term memory). Sensori memori mencatat informasi atau stimulus yang masuk melalui salah satu atau kombinasi panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga bau melalui hidung, rasa melalui lidah dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimulus tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke system ingatan jangka pendek. Sistem ingatan jangka pendek menyimpan informasi atau stimulus selama ± 30 detik, dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi (chunks) dapat dipelihara dan disimpan di sistem ingatan jangka pendek dalam suatu saat. Setelah berada di sistem ingatan jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer lagi melalui proses rehearsal latihan/pengulangan) ke system ingatan jangka panjang untuk disimpan, atau dapat juga informasi tersebut hilang atau terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi yang baru.[21]
Bagi seorang tenaga pengajar atau guru, pengetahuan ini sangat bermanfaat karena membantu dalam memonitor dan mengarahkan proses berfikir siswa. Dalam pembelajaran menghafal Al- Qur’an, sejak dini anak perlu dilatih menghafal atau mengingat secara efektif dan efisien. Latihan-latihan tersebut menurut Gie, meliputi 3 hal yaitu: pertama, recall, anak dididik untuk mampu mengingat materi pelajaran di luar kepala; kedua, recognition anak dididik untuk mampu mengenal kembali apa yang telah dipelajari setelah melihat atau mendengarnya; dan ketigarelearning: anak dididik untuk mampu mempelajari kembali dengan mudah apa yang pernah dipelajarinya. Dalam pembelajaran menghafal Al-Qur’an Madrasah Ibtidaiyah/ Sekolah Dasar, tahap yang dilakukan adalah murid diupayakan untuk sampai pada tingkat recall, yakni murid mampu menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala.[22]
2.  Materi pembelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an
Materi pembelajaran adalah jabaran dari kemampuan dasar yang berisi tentang materi pokok tau bahan ajar. Untuk urutan materi pembelajaran Tahfidzul Qur’an bagi usia dini atau siswa usia Sekolah Dasar (SD) Madrasah Ibtidaiyah (MI) akan lebih mudah jika dimulai dengan menghafal Juz Amma, tepatnya dari surat An-Naas mundur ke belakang sampai surat An-Naba’. Baru setelah itu bisa dilanjutkan dengan surat-surat pilihan, seperti Al- Mulk, Al Waqiah, Ar-Rahman dan sebagainya. Atau bisa mulai dari Juz 1 atau Juz 29, dan seterusnya.[23]
3.  Langkah-Langkah Praktis menerapkan pembelajaran tahfidzul Qur’an
Menurut Ahmad Salim Badwilan, ada beberapa langkah praktis dalam menerapkan pembelajaran tahfidzul Qur’an, antara lain:[24]
a.    Ambillah air wudhu dan sempurnakan wudhu anda
b.    Batasi kuantitas hafalan setiap hari dan pembacaannya dengan tepat
c.    Jangan melampaui silabi hafalan harian anda hingga anda memperbagus hafalan tersebut
d.    Janganlah pindah pada silabi hafalan yang baru kecuali jika telah menyempurnakan silabi hafalan lama
e.    Janganlah melampaui surat hingga anda mengikat yang pertama dengan yang terakhir
f.      Konsistenlah pada satu model untuk mushaf hafalan anda
g.    Tulislah apa yang anda hafal serta kenali tempat kesalahannya
h.   Ulangi apa yang telah anda hafal
i.      Pada hari berikutnya, bacalah apa yang telah anda hafal di luar kepala sekali lagi sebelum memulai hafalan baru
j.      Jadikan satu hari dalam seminggu untuk mengulang-ulang apa yang telah anda hafal selama satu minggu itu.
4.  Metode Pembelajaran Membaca Dan Menghafal Al-Qur’an
Metode berasal dari bahasa Yunani (Greeca) yaitu “Metha” dan “Hados”, “Metha” berarti melalui/melewati, sedangkan “Hados” berarti jalan/cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu.[25] Menghafal Al-Qur’an merupakan harta simpanan yang sangat berharga yang diperebutkan oleh oleh orang yang bersungguh-sungguh. Hal ini karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang bisa menjadi syafa’at bagi pembacanya kelak dihari kiamat. Menghafal Al-Qur’an untuk memperoleh keutamaan-keutamaannya memiliki berbagai cara yang beragam.
Metode atau cara sangat penting dalam mencapai keberhasilan menghafal, karena berhasil tidaknya suatu tujuan ditentukan oleh metode yang merupakan bagian integral dalam sistim pembelajaran. Lebih jauh lagi Peter R. Senn mengemukakan, “ metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah yang sistimatis.” [26]
Berikut ini secara terperinci metode membaca dan menghafal Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:
a.    Metode membaca Al-Qur’an
Dalam membaca Al-Qur’an  terhadap metode belajar yang sangat variatif karena belajar Al-Qur’an bukan sekedar mengenal huruf-huruf  Arab beserta (syakal) yang menyertainya, akan tetapi  juga mengenalkan segala aspek yang terkait  dengannya.  hal itu dikarenakan membaca  Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz memiliki  kaidah–kaidah tersendiri yang telah ada sejak diturunkan dengan demikian, Al-Qur’an dapat  dibaca  sebagaimana  mestinya,  yakni sesuai  dengan kaidah  atau aturan-aturan  yang  berlaku. Untuk  tujuan  tersebut,  maka diharapkan tersedianya  materi-materi  yang  dapat memenuhi  kebutuhan  itu,  yaitu materi  yang komperehensip yang mampu mewakili seluruh jumlah ayat yang  ada  dalam Al-Qur’an.  Sehingga  anak  didik  selesai  mempelajari materi-materi tersebut, maka dapat dipastikan bahwa anak didik dapat membaca seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Khusus dalam materi pembelajaran baca Al-Qur’an, secara umum dapat di kelompokkan ke dalam lima kelompok besar, yaitu (1) Pengenalan huruf  hijaiyyah  dan  makhrajnya,  (2)  Pemarkah  (Al-asykaal), (3) huruf-huruf bersambung, (4) tajwid dan bagiannya, (5) Ghraaib (bacaaan yang tidak sama dengan kaidah secara umum).
Menurut Samsul Ulum dalam pengajaran membaca Al-Qur’an terdapat beberapa metode yang dapat dilaksanakan dalam proses pengajaran membaca bagi pemula. Masing-masing  metode  tersebut  memiliki kelebihan dan kekurangan, metode tersebut antara lain yaitu:
1)  Metode Harfiyah
Metode ini  disebut  juga  metode  hijaiyah atau alfabaiyah atau abajadiyah. Dalam pelaksanaanya, seorang guru mengajarkan pengajaran huruf hijaiyah satu persatu. Disini seorang murid membaca huruf dengan melihat teks/ huruf tertulis dalam buku. Selain itu, siswa membaca potongan-potongan kata.
2)  Metode Shoutiyah
Metode ini terdapat kesamaan dengan metode harfiyah dalam hal tahapan yang  dilakukan,  yaitu  mengajarkan  potongan-potongan  kata atau kalimat namun dapat perbedaan yang menonjol yaitu:  dalam metode harfiyah seorang guru dituntut untuk menjelaskan nama, misalkan huruf shod, maka seorang guru harus memberitahukan bahwa huruf itu adalah shod, berbeda dengan shoutiyah, yaitu  seorang guru ketika berhadapan  dengan huruf  shod dia  mengajarkan bunyi yang disandang huruf tersebut yaitu sha, bukan mengajarkan hurufnya.
3)  Metode Maqthaiyah
Metode ini merupakan metode yang dalam memulai mengajarkan membaca diawali dari potongan-potongan kata, kemudian dengan kata dilanjutkan dengan kata-kata uang ditulis dari potongan kata tersebut. Dalam mengajarkan membaca, harus  didahului dengan huruf-huruf yang mengandung mad. Mula-mula siswa dikenalkan alif , wawu, dan ya’, kemudian  di  kenalkan dengan  pada  kata  sepeti  saa, sii, suu, (terdapat bacaan mad), kemudian  dengan  potongan  kata  tersebut dirangkai dengan potongan kata yang lain, seperti saro, siirii, saari, siiroo, siisrii, dan seterusnya. Terkadang menggunakan metode ini lebih baik dari  metode  harfiyah  atau metode shoutiyah, karena metode maqthoiyah dimulai dari seperangkat potongan kata, bukan satu huruf atau satu suara.    
4)  Metode Kalimah
Kalimah berasal dari bahsa Arab yang yang berarti kata. Disebut metode kalimah karena  ketika siswa  belajar  membaca  mula-mula langsung dikenalkan dengan bentuk kata. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis huruf–huruf yang terdapat pada kata-kata  tersebut. Metode ini  kebalikan dengan metode  metode  harfiyah  dan metode shoutiyah yang mengawali dari huruf atau bunyi kemudian beralih kepada mengajarkan kata. Dalam  pelaksanaanya, seorang  guru menunjukkan sebuah kata dengan konsep yang sudah sesuai, kemudian pengajar  menggunakan kata  tersebut  nenerpa  kali  setelah itu diikuti siswa. Setelah itu guru menunjukkan yang siswanya  berupaya mengenalnya atau membacanya. Setelah siswa tesebut  mampu membaca kata, kemudian guru mengajak untuk menganalisis  huruf-huruf yang ada pada kata-kata tersebut.
5)  Metode Jumlah
Kata jumlah berasal dari bahsa Arab berarti kalimat. Mengajarkan membaca dengan metode ini adalah dengan cara   seorang guru menunjukkan sebuah kalimat singkat pada sebuah kartu  dengan cara dituliskan dipapan tulis, kemudian guru mengucapkan  kalimat tersebut dan  setelah  itu  diulang  oleh  siswa  beberapa  kali.  Setelah itu, guru menambahkan satu kata pada kalimat tersebut lalu  membacanya dan ditirukan lagi oleh siswa, seperti: Dzahaba al-walad,  dzahaba al-walad. Kemudian dua kalimat tersebut  dibandingkan  agar siswa mengenal kata-kata yang sama dan kata yang tidak sama. Apabila siswa telah membandingkan, maka guru mengajak untuk menganalisis kata yang ada sehingga sampai pada huruf-hurufnya. Dari sinilah dapat diketahui bahwa metode jumlah dimulai dari kalimat, kemudian kata, sampai pada hurufnya.

6)  Metode Jama’iyah
Jamaiyah berarti keseluruhan, metode jama’iyah berarti menggunakan metode yang telah ada, kemudian menggunakan sesuai dengan  kebutuhan karena  setiap  metode mempunyai  kelebihan  dan kelemahan. Karena itu, yang lebih tepat adalah menggunakan seluruh metode yang ada tanpa harus terpaku pada satu metode saja. [27]
b.    Metode Menghafal Al-Qur’an
Sebelum penulis menjelasakan tentang apa saja metode menghafal Al-Qur’an penulis ingin mejelaskan beberapa tata cara yang harus di penuhi dalam menghafal Al-Qur’an, antara lain:
1)  Keinginan yang tulus dan niat yang kuat untuk menghafal Al-Qur’an
2)  Pelajari aturan-aturan membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan seorang guru yang mempelajari dan mengetahui dengan baik aturan aturan tersebut.
3)  Terus bertekad memiliki keyakinan untuk menghafal Al-Qur’an setiap hari, yaitu dengan menjadikan hafalan sebagai wirid harian, dan hendakalah permulaanya bersifat sederhana mulai menghafal seperempat juz, kemudian seper delapan, dan seterusnya. Setelah itu memperluas hafalah, mungkin dengan menghafal dua seper delapan pada hari yang sama, di seratai memilih waktu yang sesuai untuk menghafal.
4)  Mengulang hafalan yang telah dilakukan sebelum melanjutkan hafalan selanjutnya disertai dengan kesinambungan.
5)  Niat dalam menghafal dan mendalalami selayakanya di niatkan demi mencari ridlo Alloh SWT bukan untuk tujuan dunia.
6)  Mengerjakan apa yang ada dalam Al-Qur’an, baik urusan-urusan kecil maupun yang besar dalam kehidupan.
7)  Ketika Allah SWT memberi petunjuk kepada kita untuk kita, maka kita wajib mengajarkannya kepada orang lain.[28]
Namun dengan memahami metode menghafal Al-Qur’an yang efektif, pasti kekurangan-kekurangan yang ada akan diatasi. Ada beberapa metode menghafal Al-Qur’an yang sering dilakukan oleh para penghafal, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.    Metode Wahdah, Yang dimaksud metode ini, yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat dapat dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya.
b.    Metode Kitabah, Kitabah artinya menulis. Metode ini memberikan alternatif lain dari pada metode yang pertama. Pada metode ini penulis terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuk dihafal. Kemudian ayat tersebut dibaca sampai lancar dan benar, kemudian dihafalkannya.
c.    Metode Sima’i, Sima’i artinya mendengar. Yang dimaksud metode ini adalah mendengarkan sesuatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan Sangat efektif bagi penghafal yang mempunyai daya ingat extra, terutama bagi penghafal yang tuna netra atau anak-anak yang masíh dibawah umur yang belum mengenal baca tulis Al-Qur’an. Cara ini bisa mendengar dari guru atau mendengar melalui kaset.
d.    Metode Gabungan. Metode ini merupakan gabungan antara metode wahdah dan kitabah. Hanya saja kitabah disini lebih mempunyai fungsional sebagai uji coba terhadap ayat-ayat yang telah dihafalnya. Prakteknya yaitu setelah menghafal kemudian ayat yang telah dihafal ditulis, sehingga hafalan akan mudah diingat.
e.    Metode Jama’, Cara ini dilakukan dengan kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara kolektif, atau bersama-sama, dipimpin oleh instruktur. Pertama si instruktur membacakan ayatnya kemudian siswa atau siswa menirukannya secara bersama-sama.[29]
Sedangkan menurut Sa’dulloh macam-macam metode menghafal adalah sebagai berikut :
a.    Bi al-Nadzar, Yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang-ulang.
b.    Tahfidz, Yaitu menghafal sedikit demi sedikit Al-Qur’an yang telah  dibaca secara berulang-ulang tersebut.
c.    Talaqqi, Yaitu menyetorkan atau mendengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru.
d.    Takrir, Yaitu mengulang hafalan atau menyima’kan hafalan yang pernah dihafalkan/sudah disima’kan kepada guru.
e.    Tasmi’, Yaitu mendengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan maupun kepada jamaah.[30]
Pada prinsipnya semua metode di atas baik semua untuk dijadikan pedoman menghafal Al-Qur’an, baik salah satu diantaranya, atau dipakai semua sebagai alternatif atau selingan dari mengerjakan suatu pekerjaan yang terkesan monoton, sehingga dengan demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses menghafal Al-Qur’an.
5.  Metode yang Terpenting dalam Menggerakan Siswa untuk Menghafal Al-Qur’an
Ada beberapa metode penting yang menunjang dan mengerakan  siswa untuk menghafal Al-Qur’an yakni antara lain:
a.    Mengikatnya dengan kepribadian Nabi Muhammad SAW. Sebagai teladan.
Sesungguhnya dengan mengikat siswa dengan kepribadian nabi Muhammad SAW. Dan berupaya meneladaninya serta menanamakan kecintaan kepadanya di dalam hatinya termasuk media paling penting yang bisa mendorong seorang siswa untuk berbuat dan mengerahkan segala upayanya.
b.    Pujian
Pujian memberikan pengaruh yang efektif didalam jiwa. Ia bisa menghidupkan persaan-persaan mati yang tertidur, meninggalakan kesan yang baik, menanamkan kecintaan dalam hati, dan membangkitkan kesadaran diri, ia juga mendorong seorang yang dipuji itu pada suatu perbuatan dengan penuh keseriusan dan rasa santai pada saaat bersamaan.[31]
c.    Kompetisi
Kompetisi bisa menggerakan siswa potensi-potensi siswa yang tersembunyi yang tidak bisa di ketahui pada waktu-waktu biasa. Potensi-potensi dalam diri siswa itu muncul ketika diletakkan dalam kompetisi yang intens dengan orang lain.
d.    Pemecahan problem
Masa-masa kemalasan dan keengganan terkadang datang kepada seorang siswa yang rajin. Hal itu mungkin karena masalah yang meninmpanya. Sehingga, setiap masalah yang terjadi harus harus di pecahkan agar ia bisa tetap kembali kepada aktifitasnya tersebut.
e.    Pemenuhan kecenderungan dan perwujudan keinginan
Terkadang seorang siswa mengerahkan upaya yang besar, mewujudkan suatu yang besar dalam pandangannya, dan merasa ia telah memberikan sesuatu yang bernilai kepada keluarga dan gurunya ketika ia memenuhi keinginan-keinginan mereka seperti hafalan dan keunggulan, sehingga ia menunggu mereka memberikan kompensasi sesuatu yang sama dengan memenuhi kecenderungan-kecenderunganya serta mewujudkan keinginannya.[32]
6.  Strategi Menghafal Al-Qur’an
Untuk membantu mempermudah membentuk kesan dalam ingatan terhadap ayat-ayat yang dihafal, maka diperlukan strategi menghafal yang baik. Ada beberapa strategi yang digunakan dalam menghafal Al-Qur’an, yaitu:
1.   Ikhlas. Kita wajib mengikhlaskan niat, memperbaiki tujuan, dan menjadikan penghafalan Al-Qur’an hanya karena Allah SWT.
2.   Memperbaiki ucapan dan bacaan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara belajar langsung dari seorang qori’ yang bagus atau penghafal yang sempurna.
3.   Menentukan presentase hafalan setiap hari. Seseorang yang ingin menghafal Al-Qur’an harus mampu menentukan batasan hafalan yang disanggupinya setiap hari dan harus dilakukan secara istiqomah.
4.   Jangan melampaui kurukulum harian hingga bagus hafalannya secara sempurna. Tujuannya adalah agar hafalan menjadi mantap dalam ingatan.
5.   Menggunakan satu jenis mushaf. Alasannya adalah karena manusia mengingat dengan melihat, sebagaimana ia juga mengingat dengan mendengar. Selain itu gambaran ayat, juga posisinya dalam mushaf bisa melekat dalam pikiran. Apabila penghafal berganti-ganti mushaf, maka hafalannya akan kacau dan sangat sulit menghafalnya.
6.   Memahami ayat-ayat yang dihafalnya. Seorang penghafal harus membaca tafsir ayat-ayat yang dihafal dan mengetahui aspek keterkaitan antara sebagian ayat dengan ayat yang lainnya. Semua itu bisa mempermudah penghafalan ayat.
7.   Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafalnya dalam satu kesatuan surat setelah benar-benar hafal ayat-ayatnya.
8.   Mengulang dan memperdengarkan hafalannya secara rutin. Wajib mengulang dan memperdengarkan hafalannya kepada orang lain, sebagai media untuk mengetahui kesalahan-kesalahan dan sebagai peringatan yang terus-menerus terhadap pikiran dan hafalannya.
9.   Memperhatikan ayat-ayat yang serupa. Dengan memberi perhatian khusus terhadap ayat-ayat yang mengandung keserupaan (mutasyabihat). Maka hafalannya akan cepat menjadi bagus.
10.   Berguru kepada yang ahli. Yaitu guru yang hafal Al-Qur’an, serta orang yang sudah mantap dala segi agama dan pengetahuanya tentang Al-Qur’an.
11.   Memaksimalkan usia yang tepat untuk menghafal. Tahun-tahun yang tepat untuk menghafal yaitu dari usia 5 tahun hingga kira-kira 23 tahun. Alasannya, manusia pada usia ini daya hafalannya bagus sekali.[33]

Strategi di atas juga berfungsi untuk meningkatkan mutu atau kualitas hafalan Al-Qur’an. Dengan strategi mengahafal yang baik dalam proses pembelajaran menghafal Al-Qur’an maka tujuan pembelajaran menghafal Al-Qur’an tercapai.
Selain setrategi ada juga alat untuk menghafal Al-Qur’an, yang di maksudkan disini adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran guna membantu untuk mencapai suatu tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Sumber adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran itu didapat atau asal untuk belajar seseorang.
Alat dan sumber pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Tahfizul Qur’an di antaranya adalah alat multimedia seperti: (a) komputer/laptop beserta infocus; (b) televisi dan VCD Player; (c) Tape dan kaset atau CD; (d) Proyektor atau OHP. Buatlah bagan, dengan menggunakan power point untuk diproyeksikan melalui OHP, namun jika tidak ada bisa langsung dengan dibuatkan di papan tulis.
Jika tidak ada, guru dapat memanfaatkan papan tulis dan beberapa spidol dengan bermacam warna. Alat penutup untuk menutupi teks arabnya, dapat menggunakan penggaris kayu atau kertas. Untuk sumber pembelajarannya gunakanlah mushaf Juz ‘amma atau Mushaf bahriah, yang sangat praktis digunakan saat menghafal Al-Qur’an.[34]

C. Faktor Pendukung Dan Penghambat Dalam Pelaksanaan Metode Hafalan Al-Qur’an
Dalam rangka meningkatkan kualitas hafalan bagi penghafal Al-Qur’an perlu adanya sesuatu yang menunjang dari beberapa faktor antara lain factor intern dan ekstern. Adapun penjelasan kedua factor tersebut adalah sebagai berikut:
1.  Faktor Pendukung dalam Pelaksanaan Hafalan Al-Qur’an
a.    Faktor Internal
Faktor internal adalah keadaan jasmani dan rohani siswa (santri).[35] Faktor berasal dari dalam diri sendiri siswa, ini merupakan pembawaan masing-masing siswa dan sangat menunjang keberhasilan belajar atau kegiatan mereka.
Beberapa faktor yang yang berasal dari diri siswa antra lain sebagai berikut:
1)   Bakat
Secara umum bakat (aptitude) adalah komponen potensial seorang siswa untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.[36] Dalam hal ini siswa yang memiliki bakat dalam menghafal Al-Qur’an akan lebih tertarik dan lebih mudah menghafal Al-Qur’an. Dengan dasar bakat yang dimiliki tersebut, maka penerapan metode dalam menghafal Al-Qur’an akan lenih efektif. Minat Minat secara sederhana berarti kecenderungan dan kegairahan yang sangat tinggi atau keinginan besar terhadap sesuatu. Siswa yang memiliki minat untuk menghafal Al-Qur’an akan secara sadar dan bersungguh-sungguh berusaha menghafalkan kitab suci ini sebelum diperintah oleh kyai/ustadz. Minat yang kuat akan mempercepat keberhasilan usaha menghafal Al-Qur’an.
2)  Motivasi Siswa
Yang dimkasud dengan motivasi disini adalah keadaan internal organisme (baik manusia atau hewan) yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Siswa yang menghafalkan kitab suci ini pasti termotivasi oleh sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Motivasi ini bisa karena kesenangan pada Al-Qur’an atau karena bisa karena keutamaan yang dimiliki oleh para penghafal Al-Qur’an. Dalam kegiatan menghafal Al-Qur’an dituntut kesungguhan tanpa mengenal bosan dan putus asa. Untuk itulah motivasi berasal dari diri sendiri sangan penting dalam rangka mencapai keberhasilan, yaitu mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz dalam waktu tertentu.
3)  Kecerdasan
Kecerdasan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan dan menghafal Al-Qur’an. Kecerdasan ini adalah kemampuan psikis untuk mereaksi dengan rangsangan atau menyesuaikan melalui cara yang tepat.[37] Dengan kecerdasan ini mereka yang menghafal Al-Qur’an akan merasakan diri sendiri bahwa kecerdasan akan terpengaruh terhadap keberhasilan dalam hafalan Al-Qur’an. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda, sehingga cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan yang dijalani.
4)  Usia yang cocok
Penelitian membuktikan bahwa ingatan pada usia anak-anak lebih kuat dibandingkan dengan usia dewasa. Pada usia muda, otak manusia masih sangat segar dan jernih, sehingga hati lebih fokus, tidak terlalu banyak kesibukan, serta masih belum memiliki banyak problem hidup. Untuk itulah usia yang cocok dalam upaya menghafal Al-Qur’an ini sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya dalam menghafalnya. Adapun usia yang cocok adalah pada usia sekitar 5 tahun hingga 23 tahun.
b.    Faktor Esksternal
Faktor eksternal adalah adalah kondisi atau keadaan dilingkungan sekitar siswa.[38] Hal ini berarti bahwa factor-faktor yang berasal dari luar diri siswa juga ada yang bisa menunjang keberhasilan dalam menghafal Al-Qur’an.
Adapun faktor eksternal antara lain yaitu:
1)  Tersedianya guru qira’ah maupun guru tahfidz  (Instruktur)
Keberadaan seorang instruktur dalam memberikan bimbingan kepada siswanya sangat berpengaruh terhadap keberhasilannya dalam menghafalkan Al-Qur’an. Faktor ini sangat menunjang kelancaran mereka dalam proses belajarnya tanpa adanya pembimbing, kemungkinan besar mutu hafalan para siswa hasilnya kurang berkualitas dan kurang memuaskan. Jadi dengan adanya instruktur dapa diketahui dan dibenarkan oleh instruktur yang ada.
2)  Pengaturan waktu dan pembatasan pembelajaran Al-Qur’an
Siswa dalam menghafal Al-Qur’an diperlukan waktu yang khusus dan beban pelajaran yang tidak memberatkan para penghafal yang mengikti tahfidzul Al-Qur’an, dengan adanya waktu khusus dan tidak terlalu berat materi yang dipelajari para siswa (santri) akan menyebabkan sisiwa lebih berkonsentrasi untuk menghafalkan Al-Qur’an. Selain itu dengan adanya pembagian waktu akan bisa memperbaharui semangat, motivasi dan kemauan, meniadakan kejenuhan dan kebosanan. Dengan adanya semua ini, maka suatu kondisi kegiatan menghafal Al-Qur’an yang rileks dan penuh konsentrasi.
3)  Faktor Lingkungan Sosial (Organisasi, pesantren, dan keluarga)
Lingkungan adalah suatu faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil tidaknya pendidikan agama.[39] Hal ini beralasan, bahwa lingkungan para siswa bisa saja menimbulkan semangat belajar yang tinggi sehingga aktifitas belajarnya semakin meningkat. Masyarakat sekitar organisasi, pesantren, keluarga yang mendukung kegiatan Tahfidzul Qur’an juga akan memberikan stimulus positif pada para siswa sehingga mereka menjadi lebih baik dan bersungguh-sungguh dan manteb dalam menghafal Al- Qur’an.
2.  Faktor penghambat dalam pelaksaan hafalan Al-Qur’an
a.    Faktor Internal
1)  Kurang minat dan bakat
Kurangnya minat dan bakat para siswa dalam mengikuti pendidikan Tahfidzul Qur’an merupakan faktor yang sangat menghambat keberhasilannya dalam menghafal Al-Qur’an, diman amereka cenderung malas untuk melakukan tahfidz maupun takrir.
2)  Kurang motivasi dari diri sendiri
Rendahnya motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri atupun motivasi dari orang-orang terdekat dapat menyebabkan kurang bersemangat untuk mengikuti segala kegiatan yang ada, sehingga ia malas dan tidak bersungguh-sungguh dalam menghafalkan Al-Qu’ran. Akibatnya keberhasilan untuk menghafalkan Al-Qur’an menjadi terhambat bahkan proses hafalan yang dijalaninya tidak akan selesai-selesai dan akan memakan waktu yang relatif lama.
3)  Banyak dosa dan maksiat.
Hal ini karena dosa dan maksiat membuat seorang hamba lupa pada Al-Qur’an dan melupakan dirinya pula, serta membutakan hatinya dari ingat kepada Allah swt serta dari membaca dan menghafal Al-Qur’an.
4)  Kesehatan yang sering terganggu
Kesehatan merupakan salah satu faktor penting bagi orang yang menghafalkan Al-Qur’an. Jika kesehatan terganggu, keadaan ini akan menghambat kemajuan siswa dalam menghafalkan Al-Qur’an, dimana kesehatan dan kesibukan yang tidak jelas dan terganngu tidak memungkinkan untuk melakukan proses tahfidz maupun takrir.
5)  Rendahnya kecerdasan
IQ merupakan merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan Tahfidzul Qur’an. Apabila kecerdasan siswa ini rendah maka proses dalam lemah hafal Al-Qur’an menjadi terhambat. Selain itu lemahnya daya ingatan akibat rendahnya kecerdasan besa menghambat keberhsilannya dalam menghafalkan meteri, karena dirinya mudah lupa dan sulit untuk mengingat kembali materi yang sudah dihafalkannya. Meskipun demikian, bukan berarti kurangnya kecerdasan menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam proses tahfidzul Qur’an. Karena hal yang paling penting adalah kerajinan dan istiqomah dalam menjalani hafalan.[40]
6)  Usia yang lebih tua
Usia yang sudah lanjut menyebabkan daya ingat seseorang menjadi menurun dalam menghafalkan Al-Qur’an diperlukan ingatan yang kuat, karena ingatan yang lemah akibat dari usia yang sudah lanjut menghambat keberhasilannya dalam menghafalkannya.
b.    Faktor Eksternal
1)  Cara instruktur dalam memberikan bimbingan
Cara yang digunakan oleh instruktur dalam memberikan materi pelajaran bimbingan besar sekali pengaruhnya terhadap kualitas dan hasil belajar siswa.[41] Cara instruktur tidak disenangi oleh siswa bisa menyebabkan minat dan motivasi belajar siswa dalam menghafal menjadi menurun.
2)  Masalah kemampuan ekonomi
Masalah biaya menjadi sumber kekuatan dalam belajaran sebab kurangnya biaya sangat mengganggu terhadap kelancaran belajar siswa (santri). Pada umumnya biaya ini diperoleh bantuan orang tua, sehingga kiriman dari orang tua terlambat akan mempunyai pengaruh terhadap aktifitas siswa.[42] Akibatnya tidak sedikitpun diantara mereka yang malas dan turun motivasinya dalam belajar menghafal Al-Qur’an.
3)  Padatnya materi yang harus dipelajari siswa
Materi yang terlalu banyak atau padat akan menjadi salah satu penghambat studi para siswa.[43] Keadaan ini beralasan sekali karena beban yang harus ditanggung siswa menjadi lebih berat dan besar serta melelahkan.
Dengan adanya berbagai faktor yang menghambat pelaksanaan belajar dalam metode-metode menghafal Al-Qur’an, maka perlu adanya untuk memecahkannya. Menurut Oemar Hamalik, ada beberapa cara mengatasi kesulitan dalam menghafal pelajaran adalah sebagai berikut:
a.    Apa saja yang akan dihafal, maka terlebih dahulu hendaknya difahami dengan baik. Jangan menghafal materi yang belum difahami, karena cara ini akan menyebabkan kita akan bingung dan tidak bermanfaat. Kemungkinan besar juga akan mudah terlupakan.
b.    Bahan-bahan hafalan senantiasa diperhatikan, dihubungkan dan di integrasikan dengan bahan-bahan yang sudah dimiliki. Apa saja yang telah tersimpan dalam ingatan saudara dapat dijadikan latar belakang dari pada hafalan baru, sehingga hafan itu menjadi satu keseluruhan dan bukan sebagai tambahan yang lepas satu sama lain. Cara demikian akan memudahkan untuk mengingat-ingat dan akan tahan lama.
c.    Materi yang sudah saudara hafalkan, supaya sering diperiksa, di reorganisasikan dan digunakan secara fungsional dalam situasi atau perbuatan sehari-hari, seperti dalam percakapan, diskusi atau dalam mengerjakan tugas.
d.    Supaya dapat mengungkapkan dengan mudah, maka curahkan perhatian sepenuhnya pada bahan hafalan itu, Berkat kemauan dan keinginan yang kuat, maka perhatian dapat dikonsentrasikan sepenuhnya.[44]

Berdasarkan upaya diatas bila diartikan atau dihubungkan dengan kesulitan menghafal Al-Qur’an, maka ada beberapa upaya untuk mengatasinya. Adapun upaya tersebut dapat di terapkan di dalam hafalan antara lain:
a.    Senantiasa mengadakan pengulangan (Muraja’ah) dalam hafalan untuk memperkuat ayat-ayat yang sudah dihafalkan.
b.    Apa yang hendak dihafal sebaiknya dipahami dahulu agar mudah untuk mengatasinya.
c.     Senantiasa menjaga kesehatan, karena kesehatan itu memegang peranan terpenting dalam aktifitas belajar, misalkan makan bergizi, istirahat yang cukup, dan lakukan olahraga secukupnya.
d.    Pada saat menghadapi kesulitan psikologis, hendaklah mengadakan konsultasi dengan orang yang dipandang bisa membantu dan mengatasinya. Misalnya dengan kyai atau orang tua.
Dengan demikian diprlukan beberapa upaya untuk mengatasi kesulitan dalam menghfal Al-Qur’an, karena dalam setiap kegiatan seseorang (termasuk siswa/ siswa) akan selalu dihadapkan dengan permsalahan yang semuanya ini memerlukan jalan keluar untuk memecahkannya. Dengan adanya pemecahan ini apa yang diharapkan dan apa yang dilakukan baik oleh siswa maupun orang pada umumnya bisa berjalan dengan lancar dalam rangka mencapai tujuanyang dicita-citakan.

D. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan telaah terhadap karya terdahulu. Kajian pustaka pada dasarnya digunakan untuk memperoleh suatu informasi tentang teori-teori yang ada kaitannya dengan judul penelitian dan digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah.
Dalam penelitian terdahulu ini peneliti akan mendeskripsikan penelitian terdahulu yang ada relevansinya dengan judul skripsi ini. Adapun karya skripsi tersebut adalah:
Penelitian yang dilakukan oleh Rosyidatul Ummah pada tahun 2013 yang berjudul “Aktivitas Siswa Menghafal Al-Qur’an di SDN 1 Karangrejo (Studi Kasus Dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam)” yang membahas tentang proses pembelajaran tahfidz siswa SDN 1 Karangrejo dalam menghafalkan surat-surat pendek. Keterkaitan penelitian tersebut dengan skripsi ini adalah tentang bagaimana cara memanaj suatu pembelajaran Tahfidzul Qur’an supaya dapat diterima oleh anak-anak. Hasil skripsi tersebut lebih memfokuskan pada aktifitas penghafalan Al-Qur’an di kalangan anak-anak serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.[45]
Dari telaah pustaka yang telah dilakukan, penulis ingin mengemukakan bahwa penelitian ini (yang dilaksanakan) berbeda dengan penelitian yang telah disebutkan di atas dan belum ada yang mengulasnya, yang membedakan adalah fokus kajian serta tujuan dari penelitian ini yakni dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran Tahfidzul Qur’an. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa penelitian ini layak diangkat.

E.  Kerangka Berfikir
Melihat di zaman modern ini semakin berkurangnya para penghafal Al-Qur’an lingkungan sekitar kita. Disebabkan minat anak sekarang untuk menjadi penghafal Al-Qur’an sangatlah jarang. Kebanyakan orang bercita-cita ingin menjadi artis, penyanyi, model dan lain-lain. Oleh karena itu kita sebagai umat islam harus menyiapkan orang yang mampu menghafal Al-Qur’an pada setiap generasi yakni dengan menumbuhkan bakat hafidz dan hafidzah dariusia anak-anak. Hal itu harus kita lakukan krn mengingat hukum menghafal Al-Qur’an adalah fardhu kifayah. Untuk menarik minat mereka dibutuhkan inovasi pembelajaran menghafal Al-Qur’an yang fun dan interaktif serta paham dengan kondisi psikologis Anak. Memang menyelenggarakan pembelajaran menghafal Al-Qur’an bagi usia anak-anak bukanlah persoalan mudah, melainkan dibutuhkan pemikiran dan analisis mendalam dari hal perencanaan, metode, alat dan sarana prasarana, target hafalan, evaluasi hafalan dan sebagainya. Oleh karena itu dibutuhkan pula manajemen pembelajaran menghafal Al-Qur’an yang tepat dan betul-betul dapat memahami kondisi anak.
Salah satu sekolah yang mengajarkan pembelajaran Tahfidzul Qur’an yang biasanya diterapkan di Pondok pesantren, ternyata mampu diterapkan di Sekolah Dasar Islam Tahfidz (SDIT) Baitul Qur’an yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Dari latar belakang masalah yang telah terdeskripsi secara rinci, penelitian ini lebih menitik beratkan pada manajemen pembelajaran tahfidzul Qur’an yang terdiri dari bagaimana bentuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan oleh Sekolah Dasar Islam Tahfidz (SDIT) Baitul Qur’an yang terletak di Desa Mangunsari Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung.
Kerangka pikir pada penelitian ini terpola pada suatu alur pemikiran yang terkonsep seperti tampak pada gambar tabel berikut ini:
Bagan 2.1: Kerangka Berpikir Tentang
Penerapan pembelajaran  Tahfidzul Qur’an
Berdasarkan gambar bagan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.   Gambar panah menunjukkan arah adanya siklus (perputaran) dari satus item pemikiran ke item pemikiran Sekolah Dasar Islam Tahfidz (SDIT) Baitul Qur’an Mangunsari Kedungwaru Tulungagung yang mempunyai kedudukan dan hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan.
2.   Gambar kotak-kotak menunjukkan item-item pemikiran Sekolah Dasar Islam & Tahfidz (SDIT) “Baitul Qur’an” Mangunsari Kedungwaru Tulungagung dalam menerapkan program Pembelajaran tahfidzul Qur’an dalam rangka menumbuhkan bakat hafidz dan hafidzah dari usia anak-anak. Untuk membuat inovasi pembelajaran tahfidz yang menarik dan sesuai dengan psikologis anak dibutuhkan analisis dan pemikiran tentang materi, metode, alat dan sarana prasarana, target hafalan, evaluasi hafalan dan sebagainya. Untuk itu pula dibutuhkan adanya suatu konsep pembelajaran yakni yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta upaya-upaya penyelesaian dari masalah-masalah yang mungkin muncul guna tercapainya tujuan pembelajaran tahfidz secara efektif dan efisien.



[1]Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hal. 21
[2] Ibid., hal. 22
[3] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hal. 84
[4] Ibid., hal. 87         
[5]Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia..., hal. 105
[6]Abdul Aziz Abdul Rauf, Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah..., hal. 49
[7] Caesar Es. Farah, Islam Belief and Observances..., hal. 80
[8] Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung : Pustaka Setia, 2004), hal. 31
[9]Khalid Bin Abdul Karim Al-Lahim, Mengapa Saya Menghafal Al-Qur’an..., hal. 19            
[10] Al-Qur’an dan terjemahnya, (Semarang: Raja Publishing, 2011), hal. 262
[11]Ahsin W, Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an..., hal. 24
[12] Abdu al-Rabb Nawabudin, Metode Efektif Menghafal Al-Qur’an..., hal. 19
[13] Al-Qur’an dan terjemahnya, (Semarang: Raja Publishing, 2011), hal. 455
[14] Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2009),  hal. 168-169
[15] Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal al-Qur’an, (Jogjakarta: Diva Press, 2012), hal. 30
[16] Raghib As-Sirjani & Abdurrahman A. Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al-Qur’an..., hal. 63
[17] Al-Qur’an dan terjemahnya, (Semarang: Raja Publishing, 2011), hal. 284
[18] Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal al-Qur’an..., hal. 41
[19] Imam An-Nawawi, Adab dan Tata Cara Menjaga Al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka Amani, 2001), hal. 58-60
[20] Ibid., hal. 49-50
[21] Ahmad Lutfi, Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits...hal. 167
[22] Ibid.hal. 168
[23] Sa’dullah, S. Q., 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an (Jakarta : Gema Insani, 2008)hal. 58
[24] Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an, (Jogjkarta: DIVA Press, 2009), hal. 117-119
[25] Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo : Ramadhani, 1993), hal. 66
[26] Mujamil Qomar, Epistomologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Erlangga, 1995), hal. 20
[27] M.Samsul Ulum, Menangkap Cahaya Al-Qur’an, (Malang:UIN Malang Press, 2007), hal.82-85
[28] Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an..., hal. 96-98
[29] Ahsin Sakho Muhammad, Kiat-kiat Menghafal Al-Qur’an, (Jawa Barat : Badan Koordinasi TKQ-TPQ-TQA, t.t.), hal. 63-65                                                                                                                                                          
[30] Sa’dulloh, S. Q., 9 Cara Praktis Mengafal Al-Qur’an..., hal. 52-54
[31] Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an…, hal 177-178

[32] Ibid, hal. 184
[33] Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an..., hal. 106-116
[34] Sa’dullah, S.Q., 9 Cara Cepat Menghafal Al-Qur’an…, hal. 58              
[35] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000), hal.132.
[36] Ibid., hal.135-136
[37] Ibid., hal. 134
[38] Ibid., hal.132
[39] Zuhairini dkk, Metodologi Pendidikan Agama, ( Solo:Ramadhani,1993), hal. 40
[40] Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an..., hal. 141
[41]Oemar Hamalik, Metode Belajar Dan Kesulitan-Kesulitan Belajar,(Bandung: Tarsito,1983), hal.115
[42] Ibid., hal.117
[43] Ibid., hal. 67                                                      
[44] Ibid., hal 115
[45] Rosyidatul Ummah,  Aktivitas Siswa Menghafal Al-Qur’an di SDN 1 Karangrejo (Studi Kasus Dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam), (Tulungagung: Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013), hal. 85-86.

Related posts

0 komentar:

ABOUT THIS BLOG

Media untuk berbagi dan memasyarakatkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa, SELAMAT MEMBACA.

© 2013 DUNIA LAIN. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.